Penurunan Pungutan Ekspor CPO Bikin Sawit Indonesia Lebih Kompetitif

Bisnis.com, JAKARTA -- Seiring dengan dinolkannya pungutan ekspor crude palm oil (CPO), sawit Indonesia diyakini menjadi lebih kompetitif, terutama ke pasar yang bea masuknya naik yakni India.
Puput Ady Sukarno | 27 November 2018 21:36 WIB
Hambatan ekspor CPO Indonesia. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA -- Seiring dengan dinolkannya pungutan ekspor crude palm oil (CPO), sawit Indonesia diyakini menjadi lebih kompetitif, terutama ke pasar yang bea masuknya naik yakni India.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menerangkan bahwa sebelumnya India pasang bea masuk tinggi sekali dari 30% menjadi 44% per Maret 2018.

"Efeknya dengan pungutan dinolkan, sawit Indonesia, terutama ke pasar yang bea masuknya naik, yakni India bisa lebih kompetitif," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (27/11/2018).

Menurut Bhima, dampak dari kebijakan terbaru tersebut memang tidak bisa dirasakan secara langsung, tetapi diperkirakan baru terasa mulai 3--6 bulan ke depan.

"Memang ada jeda, yang paling menikmati pertama adalah perkebunan sawit skala besar. Baru efek berantainya ke perkebun rakyat. Kita lihat nanti 3-6 bulan ke depan," terangnya.

Kendati demikian, lanjut dia, pada sisi lain kebijakan tersebut juga memiliki dampak negatif yakni berkurangnya dana yang diperoleh Badan Pengelola Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), yang dikhawatirkan dapat mengganggu program B20 maupun terhambatnya replanting.

"Dampak negatifnya memang ke dana BPDP-KS, bukan saja untuk biodiesel tapi juga replanting akan terhambat," ujarnya.

Sebelumnya, Komite Dewan Pengarah BPDP-KS telah memutuskan untuk menurunkan besaran tarif pungutan ekspor CPO beserta turunannya menjadi nol dolar per ton seiring dengan rendahnya harga komoditas itu di pasar internasional.

Tag : pungutan ekspor
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top