The Fed di antara Kritik Trump & Risiko Ekonomi AS

Pejabat Bank Sentral AS (Federal Reserve) menyuarakan sedikit kekhawatiran mengenai kekuatan ekonomi AS tapi tetap mendukung kenaikan suku bunga secara gradual.
Dwi Nicken Tari | 28 November 2018 11:10 WIB
Gubernur The Fed Jerome Powell - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA—Pejabat Bank Sentral AS (Federal Reserve) menyuarakan sedikit kekhawatiran mengenai kekuatan ekonomi AS, tapi tetap mendukung kenaikan suku bunga secara gradual.

Gubernur Fed Wilayah Chicago Charles Evan, yang hadir dalam diskusi panel bersama dua orang Gubernur Wilayah The Fed lainnya, menunjukan bahwa ekonomi AS kini memiliki tantangan yang datang dari berkurangnya tenaga kerja ahli.

Selain itu, Gubernur Fed Wilayah Kansas City, Esther George juga menyebutkan kerugian di sektor agrikultur AS belakangan ini telah semakin diperparah oleh perselisihan dagang dengan China.

Sementara Gubernur Fed Wilayah Atlanta, Raphael Bostic menilai wilayahnya hanya seperti “mikrosom” di tengah-tengah ekonomi AS yang sedang menguat, yaitu tidak ikut merasakan manfaat dari ekspansi ekonomi AS yang terjadi.

Akan tetapi, tidak ada satu pun dari pemimpin The Fed regional itu yang memberikan sinyal untuk menahan kenaikan suku bunga secara gradual. Evans bahkan menegaskan kembali keinginannya agar kebijakan moneter AS kembali netral.

Di acara yang sama, Wakil Gubernur The Fed Richard Clarida juga tetap memperlihatkan dukungannya untuk kenaikan suku bunga secara gradual karena kebijakan moneter AS telah semakin dekat dengan pengaturan optimal jangka panjangnya.

“Berhubung ekonomi bergerak konsisten menuju target The Fed, risiko telah menjadi lebih simetris dan condong ke arah negatif (downside) ketimbang pada saat siklus pengetatan dimulai pada tiga tahun lalu,” ujar Clarida dalam pidatonya di konferensi The Clearing House dan Bank Policy Institute, di New York, AS, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (28/11/2018).

Pernyataan Clarida tersebut pun berhasil menguatkan dolar AS. Indeks dolar diperdagangkan di level 97,42 setelah naik selama tiga sesi berturut-turut.

Lebih lanjut, pernyataan dari sejumlah pejabat The Fed tersebut akan tetap membuat investor yakin dengan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember, atau kenaikan keempat sejak Jerome Powell menjabat sebagai Gubernur The Fed.

Adapun kendati ekonomi AS masih kuat dari berbagai indikator, beberapa tanda perlambatan sejatinya mulai terlihat baru-baru ini, seperti melemahnya harga perumahaan dan berkurangnya cadangan devisa, yang sebelumnya menopang pertumbuhan ekonomi pada awal tahun.

Selain itu, permintaan untuk hasil produksi bahan baku non-militer, kecuali pesawat terbang, juga melemah pada Oktober dalam pelemahan ketiganya berturut-turut secara bulanan.

Untuk itu, Presiden AS Donald Trump pun kembali mengeluhkan keputusannya memilih Jerome Powell mengepalai otoritas moneter Negeri Paman Sam.

“Sejauh ini, saya tidak senang sedikit pun dengan pilihan saya terhadap Jay. Tidak sedikit pun,” ujarnya dalam wawancara dengan Washington Post sambil menggunakan nama panggilan Powell.

Sebelumnya, Trump telah berulang kali memberikan kritik kepada The Fed karena kenaikan suku bunga menyebabkan gejolak di pasar saham.

Selain itu, Powell juga menyalahkan kebijakan The Fed telah membuat General Motors menutup lima pabriknya di Amerika Utara dan memecat sebanyak 14.000 pekerja pada tahun depan.

“Saya membuat kesepakatan, dan saya tidak dibantu oleh The Fed. Mereka [The Fed] membuat kesalahan karena saya memiliki intuisi. Intuisi saya lebih banyak memberikan informasi daripada otak siapapun,” ujar Trump.

Adapun kritik dari Trump merupakan hal tabu yang dilakukan oleh Presiden AS, setidaknya selama dua dekade terakhir. Pasalnya, Presiden AS biasanya menjaga memberikan komentar terkait keputusan yang diambil The Fed untuk menghormati independensi bank sentral.

Selanjutnya, pidato dari Powell pada Rabu (2811/2018) dan rilis risalah FOMC November pada Kamis (30/11/2018) akan menjadi petunjung mengenai seberapa banyak The Fed akan menaikkan suku bunga ke depannya.

Bula lalu, Powell sempat menyampaikan bahwa suku bunga acuan dapat bergerak ke atas level netralnya ditopang oleh kekuaran ekonomi AS.

“Pidato Powell sebelumnya memberikan nada hawkish. [Tapi, sejak pidato tersebut] The Fed telah banyak berubah,” ujar Mark McCormick, North American Head of FX Strategy di TD Securities, Toronto, Kanada, seperti dikutip Reuters.

Tag : the fed
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top