Ini Negara-negara yang Mendapat Berkah Perang Dagang AS-China

Perang dagang antara AS dan China membuat pelaku usaha yang terkait dengan kedua negara ini berlomba-lomba mencari lokasi dan pemasok baru di luar Negeri Panda untuk menjaga produksi tetap berjalan.
Annisa Margrit | 29 November 2018 17:05 WIB
Ilustrasi perang dagang AS-China - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Perang dagang antara AS dan China membuat pelaku usaha yang terkait dengan kedua negara ini berlomba-lomba mencari lokasi dan pemasok baru di luar Negeri Panda untuk menjaga produksi tetap berjalan.

Reuters melansir Kamis (29/11/2018), Vietnam dan Thailand menjadi destinasi pilihan. Namun, kedua negara ini masih menghadapi keterbatasan kapasitas, baik di sisi Sumber Daya Manusia (SDM) maupun infrastruktur).

Salah satunya adalah produsen furnitur asal Hong Kong, Man Wah Holdings. Perusahaan itu membeli pabrik senilai US$68 juta di Vietnam dan berniat meningkatkan kapasitasnya hingga tiga kali lipat pada akhir 2019.

BW Industrial, salah satu pengembang kawasan industri di Vietnam, mengungkapkan permintaan terhadap lahan industri menunjukkan peningkatan sejak Oktober 2018 dan sekarang seluruh pabriknya telah disewakan.

“Produsen-produsen ini datang dari seluruh dunia, tapi seluruhnya mempunyai pabrik produksi di China dan butuh segera memulai produksi,” ujar sales manager BW Industrial Chris Truong.

Sejumlah perusahaan Thailand yang bergerak di sektor elektronik dan manufaktur juga mengaku mendapatkan beberapa kontrak baru dari perusahan yang sudah beroperasi di China. Misalnya, SVI Pcl yang menyediakan solusi manufaktur dan elektronik.

“Perang dagang bagus untuk kami. Kami telah didekati oleh banyak perusahaan, sehingga kami harus menerapkan prioritas,” tutur CEO SVI Pongsak Lothongkam.

KCE Electronics, produsen Printed Circuit Boards (PCBs) terbesar Asia Tenggara, juga sudah dihubungi oleh perusahaan AS yang ingin mencari pemasok baru untuk menggantikan supplier lamanya di China.

Namun, proses relokasi membutuhkan waktu yang lama dan dana yang mencukupi. Perusahaan juga harus mencari pemasok yang tepat, menyelesaikan masalah logistik baru, serta mengurus masalah legalitas dan keuangan di negara baru.

“Relokasi dari China akan memakan waktu yang sangat lama dan sangat tidak pasti,” ucap Aidan Yao dari AXA Investment Managers.

UBS mengemukakan perusahaan dengan kebutuhan teknologi rendah dan manufaktur bernilai rendah bisa menjadi yang pertama pindah, sedangkan perusahaan dengan produk ekspor bernilai tinggi dalam hal permesinan, transportasi, dan Teknologi Informasi (TI) kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama.

Alasannya, biaya riset dan pengembangan yang dibutuhkan besar dan upah pekerja di China cukup kompetitif.

Adapun Sally Peng, pengacara perdagangan dari Sandler, Travis&Rosenberg, menilai kemampuan China saat ini, misalnya dalam hal automasi, akan sulit digantikan oleh  hanya satu negara.

“Jadi, semua orang mencari strategi China Plus One, Plus Two, Plus Three, sampai ke Afrika,” terangnya.

Perang dagang antara AS dan China sudah berlangsung sejak paruh pertama 2018, dipicu oleh kebijakan AS untuk mengerek tarif impor atas produk baja dan aluminium. Sejak saat itu, kedua negara melakukan aksi saling balas menaikkan tarif impor.

Pada Senin (3/12), Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan merealisasikan kenaikan tarif atas barang-barang impor dari China senilai US$200 miliar dari 10% menjadi 25%.

Sumber : Reuters

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top