The Fed Berikan Nada Dovish, PBOC Berpeluang Pangkas Suku Bunga

Nada dovish dari Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) Jerome Powell mengenai laju kenaikan suku bunga acuan AS pada 2019 dapat menghilangkan hambatan bagi China untuk memangkas suku bunga.
Dwi Nicken Tari | 29 November 2018 18:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Nada dovish dari Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) Jerome Powell mengenai laju kenaikan suku bunga acuan AS pada 2019 dapat menghilangkan hambatan bagi China untuk memangkas suku bunga. Hal itu disampaikan dalam laporan dari Citic Securities Co.

“Kesulitan untuk kebijakan moneter domestik [China] akan melonggar secara signifikan karena tekanan dari kenaikan suku bunga AS berkurang,” tulis laporan yang ditulis oleh Ming Ming, Head of Fixed-Income Research di Citic Securities, Beijing, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (29/11/2018).

Ming yang juga adalah mantan pejabat Bank Sentral China (PBOC) menyampaikan bahwa pemangkasan suku bunga oleh bank sentral dapat dilakukan karena biaya pendanaan ril berada dalam lajur kenaikan. 

Ming mencatat, PBOC berpeluang kembali memangkas biaya pinjaan untuk utang perbankan komersial lewat fasilitan pinjaman jangka menengah (medium-term lending facility) dan bahkan dapat memangkas benchmark suku bunga pada awal 2019.

“Pemangkasan itu mungkin secepatnya bisa terjadi pada kuartal II/2019 karena ada libur nasional dan Kongres Rakyat Nasional (National People’s Congress/NPC) pada kuartal I/2019,” tulisnya.

Adapun kebijakan moneter China belakangan ini telah bergerak berlawanan arah dengan pengetatan yang dilakkukan The Fed. Pasalnya, PBOC tengah berusaha melonggarkan aturan pengetatan pinjaman dan memberikan stimulus untuk perlambatan ekonomi Negeri Panda.

Perbedaan langkah kebijakan moneter itu pun membuat aset yuan tertekan, menekan yield obligasi Pemerintah China bertenor 1 tahun ke bawah yield obligasi AS dan menjadikan yuan sebagai mata uang berperforma terburuk di Asia.

“Sementara kebijakan saat ini masih fokus dengan pemangkasan pajak, peningkatan jumlah kredit, dan stimulus fiskal untuk jangka pendeka, kemungkinan untuk memangkas suku bunga dapat menjadi ‘cadangan kebijakan’ untuk tahun depan,” kata Hua Changchun, Global Chief Ekonomist di Guotai Junan Securities Co., Shenzhen, China.

Adapun PBOC sempat memangkas biaya pinjaman MLF bertenor satu tahun sebanyak tiga kali pada tahun lalu dan sekali pada tahun ini ke level 3,3%. Sementara biaya pinjaman bertenor 1 tahun tetap tidak berubah di level 4,35% sejak Oktober 2015.

Beberapa analis pun menilai kini PBOC berpeluang memanfaatkan keadaan untuk memangkas suku bunga karena kondisi keuangan telah semakin sulit bagi perusahaan kecil dan perusahaan swasta. Belum lagi pertumbuhan laba industri di China juga kian melambat.

Namun, menurut ekonom yang disurveri Bloomberg pada bulan ini, pilihan untuk memangkas suku bunga dipercaya akan menjadi pilihan kedua untuk menstimuluskan perekonomian yang melambat di China, setelah pemangkasan pajak maupun pemangkasan rasio simpanan wajib perbankan (requred reserve ratio/RRR).

Pasalnya, pemangkasan suku bunga yang memang dapat melonggarkan kondisi ekonomi tersebut dapat menambah tekanan terhadap nilai yuan.

Tag : Kebijakan The Fed, pboc
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top