Potensi Jakarta Serap Investasi Hijau Capai US$30 Miliar

Kota Jakarta diperkirakan memiliki potensi investasi yang diarahkan untuk menekan efek perubahan iklim sebesar US$30 miliar hingga 2030. 
Hadijah Alaydrus | 29 November 2018 20:49 WIB
Petugas melakukan pengecekan rutin pengolahan limbah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri Terpadu PT MCAB Cisirung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (2/8/2018). - ANTARA/Novrian Arbi

Bisnis.com, JAKARTA - Kota Jakarta diperkirakan memiliki potensi investasi yang diarahkan untuk menekan efek perubahan iklim sebesar US$30 miliar hingga 2030. 

International Finance Corporation (IFC) Regional Director for East Asia and the Pacific Vivek Pathak menuturkan kesempatan investasi ini berada di sektor pembangunan gedung hijau (green buildings), kendaraan elektrik, dan energi terbarukan. 
 
"Dengan peningkatan populasi yang dramatis di sejumlah perkotaan di Asia, maka ada lebih banyak kesempatan untuk transisi program rendah karbon di kota-kota besar dengan memperhitungkan PDB mereka," papar Vivek dalam siaran pers IFC, Kamis (29/11/2018). 
 
Laporan IFC memperkirakan sebanyak 1,2 miliar orang akan tinggal di kota-kota Asia pada 35 tahun ke depan. Oleh karena itu, kota-kota di Asia ini memiliki potensi untuk menarik investasi berbasis iklim sebesar US$20 triliun pada 2030.
 
Menurut IFC, investasi ini akan terfokus kedalam enam sektor a.l. bangunan hijau, transportasi publik, kendaraan listrik, pengelolaan sampah dan limbah, pengelolaan air dan energi terbarukan. 
 
Laporan ini juga menunjukan kota besar di Asia memiliki potensi besar untuk menarik investasi dalam pengurangan batas emisi karbon. 
 
IFC CEO Philippe Le Houérou mengatakan gambaran ini semakin menegaskan sejumlah langkah dari pemerintah kota di Asia yang mulai menggunakan green bond dan skema PPP untuk menarik dana dan membangun ketahanan perkotaannya. 
 
"Ada urgensi besar untuk mengatasi perubahan iklim, kita harus mengambil tindakan yang berarti sekarang," kata Philippe, Kamis (20/11).
 
Melalui rencana, kebijakan, dan proyek berbasis penanganan iklim ini, dia meihat kawasan Asia Pasifik memiliki potensi investasi berbasis iklim tertinggi di kawasan mana pun di dunia, dengan peluang terbesar pada pembangunan gedung hijau, diperkirakan mencapai US$17,8 triliun pada tahun 2030.
 
Sementara itu, pengolahan sampah dan limbah memiliki potensi investasi hingga US$104 miliar, disusul oleh transportasi publik US$352 miliar, energi terbarukan US$407 miliar; pengelolaan air pintar berbasis iklim US$571 miliar dan kendaraan elektrik US$783 miliar.
 
Dengan lebih dari separuh penduduk dunia saat ini tinggal di daerah perkotaan, kota mengonsumsi lebih dari dua pertiga energi dunia dan mencakup lebih dari 70% emisi karbon dioksida global. Upaya kota besar mengatasi perubahan iklim akan menjadi bagian penting dari upaya untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celcius. 
 
“Kota adalah garis perbatasan berikutnya untuk investasi iklim, dengan triliunan dolar peluang yang belum dimanfaatkan. Untuk mewujudkan janji kota-kota cerdas, maka sektor publik perlu melakukan reformasi yang bertujuan untuk menarik lebih banyak pembiayaan sektor swasta," tegasnya
 
Secara global, kesempatan investasi dalam pembangunan gedung hijau mencapai US$24,7 triliun, transportasi publik rendah karbon US$1 triliun, kendaraan elektrik US$1,6 triliun. Pada saat yang sama, potensi investasi di sektor energi bersih mencapai US$842 miliar, pengelolaan air US$1 triliun, pengolahan sampah US$200 miliar. Semua pengembangan sektor adalah komponen penting untuk membentuk pembangunan kota yang berkelanjutan.

Tag : ifc, investasi hijau
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top