BI: Investor Asing mulai Serbu Obligasi Negara, Kepercayaan ke Indonesia Menguat

Kepercayaan pelaku pasar kian menguat seiring dengan arus modal asing yang kembali masuk ke pasar obligasi negara.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 30 November 2018  |  16:31 WIB

Bisnis,com, JAKARTA – Kepercayaan pelaku pasar kian menguat seiring dengan arus modal asing yang kembali masuk ke pasar obligasi negara.

Bank Indonesia mencatat arus modal asing masuk ke dalam pasar surat berharga negara senilai Rp34,25 triliun sehingga secara tahunan totalnya mencapai US$62,4 triliun (year to date).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kondisi ini diikuti oleh kabar baik dari pasar saham. Modal asing tidak hanya masuk ke pasar surat berharga negara (SBN), tetapi juga ke pasar modal.

"Catatan kami aliran investasi portfolio asing ke saham itu Rp12.2 triliun sehingga secara keseluruhan bulan ini ada aliran masuk modal asing ke SBN dan saham Rp46,4 triliun," ujar Perry, Jumat (30/11/2018). 

Peningkatan kepercayaan pasar ini membawa angin positif bagi pergerakan rupiah yang dipantau BI semakin kuat. Aliran modal asing ini menambah pasokan dolar dan memperkuat nilai tukar. 

Menurut Perry, pelaku pasar percaya terhadap kebijakan yang telah dilakukan pemerintah dan bank sentral. Selain itu, pelaku pasar melihat perbaikan ekonomi dalam negeri dan stabilitas yang terjaga. 

"Confident terhadap ekonomi Indonesia terhadap kebijakan-kebijakan yang terus kita tempuh semakin kuat, terbukti dengan adanya aliran modal asing masuk dalam portfolio itu," tegasnya.

BI juga melihat faktor lain yang memperkuat rupiah, yakni semakin bekerjanya mekanisme pasar setelah berbagai kebijakan trobosan yang ditempuh. 

Sejauh ini, mekanisme pasar berkembang sangat baik, pasokan dan permintaan berkembang sangat baik. Sementara itu, transaksi valas terjadi baik di pasar spot, pasar swap dan juga pasar DNDF (Domestic Non Deliverable Forward). 

Dari catatan BI, korporasi juga aktif terkait dengan pasokan dan permintaannya. Begitupun perbankan dan investor asing yang marak menggunakan DNDF. Perry menuturkan pihaknya melihat perbedaan dan spread antara nilai tukar di pasar spot dan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) semakin mengecil, yakni di bawah Rp50. 

"Itu menunjukkan mekanisme pasar begitu bekerja," ungkap Perry.

Di sisi lain, Perry mengakui adanya faktor eksternal mempengaruhi pergerakan nilai tukar ke arah yang positif. Pertama, progres perundingan dagang antara AS dan China. Kedua, pernyataan Jerome Powell (Gubernur Federal Reserve / Bank Sentral AS)  yang lebih dovish alias hati-hati. 

Terkait dengan pernyataan Fed, BI masih memperkirakan kenaikan suku bunga AS sebanyak satu kali pada akhir tahun dan tiga kali tahun depan, meskipun pasar melihat ada kemungkinan naik dua kali saja tahun depan. 

Sejauh ini, Perry menegaskan kenaikan suku bunga yang telah dilakukan BI telah mengantisipasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) pada Desember dan Januari. Tidak hanya FFR, kenaikan suku bunga BI pada November ini juga mengantisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan kedepan.

Dalam pandangan BI, rupiah masih stabil dan akan menguat. Walaupun, nilainya saat ini masih undervalued

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, obligasi negara, perry warjiyo

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top