IFC: Potensi Investasi Hijau Jakarta Capai US$30 Miliar

International Finance Corporation (IFC), organisasi anggota Grup Bank Dunia, memproyeksikan potensi investasi senilai US$30 miliar di sektor investasi hijau untuk periode 2018–2030 di Kota Jakarta pada 6 sektor utama.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 02 Desember 2018  |  20:20 WIB
IFC: Potensi Investasi Hijau Jakarta Capai US$30 Miliar
Ekonomi Jakarta - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—International Finance Corporation (IFC), organisasi anggota Grup Bank Dunia, memproyeksikan potensi investasi senilai US$30 miliar di sektor investasi hijau untuk periode 2018–2030 di Kota Jakarta pada 6 sektor utama.

Sandra Pranoto, Green Building Leads IFC Indonesia, mengatakan bahwa proyeksi tersebut merupakan bagian dari laporan IFC terbaru yang menganalisis target perbaikan iklim kota dan rencana kegiatan di 6 kawasan kota.

Keenamnya yakni, Jakarta-Indonesia, Nairobi-Kenya, Mexico City-Meksiko, Amman-Yordania, Rajkot-India, dan Belgrade-Serbia. Total potensi investasi hijau di keenam kota sampel ini diproyeksikan mencapai US$97,5 miliar.

Untuk skala global di kota-kota di negara-negara berkembang, IFC memproyeksikan total potensi investasi hijau ini mencapai US$29,4 triliun untuk periode 2018 – 2030. Laporan ini dipublikasikan serentak di seluruh perwakilan IFC global pada akhir pekan lalu.

Sandra mengatakan, potensi investasi hijau di Indonesia mencakup 6 bidang. Potensi terbesar adalah di bidang bangunan hijau, mencapai US$16 miliar. Selanjutnya, bidang kendaraan listrik US$7 miliar, energi baru terbarukan US$3 miliar, air bersih US$3 miliar, limbah US$725 juta, dan transporasi publik US$660 juta. Totalnya US$30 miliar.

Secara global, skala potensi investasi di sektor bangunan hijau juga adalah yang tertinggi, mencapai US$24,7 triliun, atau 84% dari total potensi investasi US$29,4 triliun hingga 2030.

Sandra mengatakan, investasi tersebut dibutuhkan untuk mengejar target pengurangan emisi sebesar 30% dari level tahun 2005 dan menciptakan sumber energi baru terbarukan yang berkontribusi sebesar 30% dari total kebutuhan energi pada 2030.

“Oleh karena itu, kita perlu kerja sama dengan pemerintah kota dank lien penyedia keuangan lainnya untuk menyediakan pasar bagi bisnis yang terkait dengan iklim ini. Kita sudah mengenal climate smart investment. Kami ingin membaut semua pihak menjalankan investasi ini,” katanya, Jumat (30/11).

Oswar Mungkasa, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, mengatakan bahwa saat ini Pemda DKI Jakarta tengah mempersiapkan revisi Pergub 38 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau. IFC terlibat membantu revisi ini.

Sejak berlakunya aturan itu, DKI Jakarta telah memiliki 339 gedung hijau seluas 21 juta m2, pengurangan potensi emisi CO­­2 874 juta metric ton, penghematan potensi penggunaan listrik 1,16 juta MWh, dan penghematan potensi biaya listrik US$89,6 triliun.

Pemda DKI Jakarta kini menginisiasikan beragam upaya, antara lain menciptakan forum bagi para jawara di berbagai bidang seputar mitigasi perubahan iklim, menciptakan grand design yang baru tentang Jakarta Kota Hijau, dan membangun proyek percontohan berupa rusunawa hijau di Daan Mogot, Jakarta.

“Kalau kita tetap memanfaatkan pergub yang lama, angka capaiannya tidak akan naik signifikan lagi. Jadi, kita perketat aturannya dan perluas cakupannya hingga termasuk juga hunian di atas 200 m2. Kami sekarang sedang memikirkan insentif apa yang akan bisa diberikan,” katanya

Jack Sidik, Senior Country Officer IFC Indonesia, mengatakan bahwa sekitar 60% penduduk Indonesia akan terkonsentrasi di kota-kota pada 2025. Hal ini akan menjadi ancaman besar terhadap perubahan iklim, tetapi sekaligus memiliki potensi bisnis dan investasi yang besar di dalamnya.

“IFC ingin mempromosikan bahwa perubahan iklim bukan hanya satu risiko, tetapi ada peluang investasi di dalamnya bagi investor,” katanya.

Dirinya mengapresiasi langkah OJK yang sejak tahun lalu telah menerbitkan regulasi terkait emisi obligasi hijau, yang mana sudah direalisasikan pemerintah melalui emisi green sukuk global tahun ini. IFC juga telah menyokong emisi green bond Bank OCBC tahun ini. Hingga Juni 2018, total outstanding pembiayaan IFC sudah mencapai US$1,45 miliar.

Menurutnya, dengan terbukanya peluang pendanaan hijau dan dorongan dari regulasi pemerintah, potensi investasi hijau senilai US$30 miliar hingga 2030 mendatang di Jakarta sangat mungkin terwujud.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ifc

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup