Core: Hasil G20 Tak Mengurangi Tekanan Eksternal bagi Indonesia

Gencatan senjata perang dagang dan komitmen reformasi world trade organization (WTO) tidak akan berdampak signifikan mengurangi tekanan eksternal bagi Indonesia sebab ketidakpastian tetap ada.
Rinaldi Mohammad Azka | 02 Desember 2018 20:59 WIB
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal memberikan paparan dalam CORE Economic Outlook 2019 bertajuk Memperkuat Ekonomi di tengah Tekanan Global, di Jakarta, Rabu (21/11/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Gencatan senjata perang dagang dan komitmen reformasi world trade organization (WTO) tidak akan berdampak signifikan mengurangi tekanan eksternal bagi Indonesia sebab ketidakpastian tetap ada.

Direktur Eksekutif Center of Reform for Economic (Core) Indonesia Mohammad Faisal menuturkan kesepakatan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jin Ping dalam pertemuan G20 tidak serta merta meredakan gejolak perekonomian global. Sebab, pertemuan tersebut hanya menunda penerapan tarif tambahan pada awal Januari 2019.

"Itu ditunda [penerapan tarif baru], artinya itu tidak meredakan tapi setidaknya tidak menambah tekanan lebih. Dengan kondisi itu konsisten tidak ada perubahan mendadak, ini mestinya tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi global dan pertumbuhan perdagangan global tidak makin parah dan besar tekanannya," ungkapnya kepada Bisnis, Minggu (2/12/2018).

Menurutnya, dari sisi ekspor negara dunia ketiga terutama Indonesia artinya tekanan ekspor menjadi tidak terlalu besar. Sementara kalau ketidakpastian terjadi yang berakibat pada penerapan tarif baru, pertumbuhan ekspor Indonesia yang banyak bergantung pada aturan impor negara maju akan semakin tertekan.

"Hanya sekedar tidak menambah tekanan, sampai saat ini baru sampai di situ. Kalau sebetulnya trade war berjalan sebagian negara yang jadi pesaing China mereka dapat keuntungan seperti Vietnam, kita umumnya tidak bisa mengambil kesempatan itu dan hanya Vietnam yang diuntungkan," tegasnya.

Selain itu, dia menilai kesepakatan G20 untuk mereformasi WTO masih harus diikuti kebijakan lanjutan dan Indonesia dapat mengambil banyak peran di sana. Sebab, dalam berbagai aturan WTO, Indonesia acap kali dirugikan dengan aturan yang ada.

Faisal mencontohkan Indonesia memiliki aturan mengenai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Aturan tersebut katanya tidak bertentangan dengan aturan WTO tetapi acap dipermasalahkan negara maju melalui WTO. Walhasil, Indonesia dirugikan.

"Terutama ke negara-negara berkembang mudah-mudahan jadi lebih adil, kita kalau perdagangan banyak yang tidak lewat WTO, perjanjian bilateral, multilateral, regional itu lebih mengikat. Sementara dari sisi WTO ada upaya reformasi, sehingga ada ruang bagi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekspor dan industri dalam negeri," paparnya.

Sementara itu, dari sisi arus modal masuk menurutnya dengan kesepakatan yang ada tidak berdampak signifikan, sebab alasan utama berupa kenaikan suku bunga AS tetap akan meningkat dengan atau tanpa adanya trade war.

Dia bercerita menurutnya, dengan adanya perang dagang, inflasi di AS akan meningkat karena harga barang menjadi mahal, sementara tanpa perang dagang inflasi akan meningkat karena pertumbuhan konsumsi.

Dengan demikian, hasilnya akan tetap sama, inflasi yang meningkat akan menjadi tolak ukur The Fed menaikkan suku bunganya. Dengan naiknya suku bunga AS, arus modal akan tetap keluar.

Namun, Faisal tetap optimistis tekanan arus modal keluar pada 2019 tidak akan sekencang 2018. Sebab, The Fed sudah memberikan sinyal yang lebih landai dan tidak seagresif sebelumnya.

"Capital outflow ada, dengan kenaikan The Fed hanya tidak sekencang tahun ini, dari sisi psikologisnya lebih dovish. Desember ini yang asalnya direncanakan kenaikan, jadi tidak pasti," tuturnya.

Tag : g20
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top