BPS: Inflasi November 2018 Capai 0,27% 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) selama November 2018 mengalami inflasi sebesar 0,27%. 
Hadijah Alaydrus | 03 Desember 2018 11:33 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memberikan paparan dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Indonesia kuartal II/2018, di Jakarta, Senin (6/8/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) selama November 2018 mengalami inflasi sebesar 0,27%. 

Adapun, inflasi tahunan dan tahun kalendernya mencapai masing-masing 3,23% dan 2,5%. Dari 82 kota yang disurvei BPS, 70 kota mengalami inflasi dan 12 kota mengalami deflasi. 

Inflasi tertinggi di Merauke sebesar 2,05% dan terendah Balikpapan (), sementara deflasi terendah di Pematangsiantar dan Pangkalpinang dan tertinggi di Medan. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan angka inflasi November terkendali karena masih di angka sasaran 2,5%-4,5%.

"Inflasi terbesar terjadi pada kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, jadi itu penyebab inflasi November 2018," ujar Suhariyanto, Senin (3/12).

Inflasi kelompok ini pada November tercatat sebesar 0,56% dengan andil 0,10%.  "Ini disebabkan banyak kegiatan akhir tahun sehingga ada kenaikan tarif angkutan udara."

Kenaikan terjadi di 36 kota IHK, terutama Ambon, Ternate dan Sorong yang cukup tinggi. Sementara itu, inflasi terbesar kedua adalah kesehatan sebesar 0,36%. Tetapi, andilnya tidak besar hanya 0,01%. Untuk kelompok bahan makanan, inflasinya mencapai 0,24% dengan andil sebesar 0,05%

Inflasi disumbang oleh kenaikan harga bawang merah sebesar 0,04%. Kenaikan harga bawang merah ini dipicu oleh kondisi cuaca. Dari catatan BPS, kenaikan harga bawang merah terjadi di 74 kota IHK, terutama Cirebon dan Banda Aceh

Selain bawang merah, beras juga mengalami kenaikan. Namun, Suhariyanto menuturkan harganya masih terkendali karena kenaikannya tipis. "Meski tipis tetapi andilnya cukup besar, yakni 0,03%," ujar Suhariyanto. 

Sementara itu, telur ayam ras, tomat sayur dan wortel masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,01%. Adapun, bahan pangan yang mengalami deflasi a.l. cabai merah sebesar 0,04%, dan daging ayam ras, buah dan minyak goreng sebesar 0,01%.

Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar tercatat mengalami inflasi sebesar 0,25% dengan andil 0,06%. Inflasi ini didorong oleh kenaikan upah tukang bukan mandor sebesar 0,02% dan peningkatan bahan bangunan, seperti besi beton, cat tembok.

Jika disimpulkan, Suhariyanto menuturkan komoditas yang memicu inflasi a.l. tarif pesawat, bawang merah, beras, upah tukang, dan kenaikan harga bensin nonsubsidi. 

Inflasi November 2018 ini lebih tinggi dibandingkan inflasi 2017 yang mencapai 0,20%. Namun, inflasi November 2018 ini lebih rendah dibandingkan Oktober 2018 yang mencapai 0,28%.

Dari data BPS, inflasi inti pada November 2018 tercatat sebesar 0,22% dengan andil 0,13%. Secara tahun kalender, inflasi sebesar 0,29% dan inflasi tahunannya sebesar 3,03%. 

Inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 0,52% dengan andil mencapai 0,10%. Secara tahun kalender, inflasi komponen ini tercatat sebesar 2,13% dan inflasi tahunannya sebesar 3,07%. 

Inflasi pangan bergejolak pada November 2018 tercatat sebesar 0,23% dengan andil 0,04%. Inflasi tahun kalendernya mencapai 1,81% dan tahunannya mencapai 4,32%. 

Tag : Inflasi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top