Sri Mulyani: Pertemuan G20 Berdampak Positif, tapi Tetap Harus Waspada

Pemerintah melihat pertemuan G20 memberikan dampak positif bagi perekonomian global. Namun, bayang-bayang ketidakpastian lanjutan masih harus diwaspadai.
Rinaldi Mohammad Azka | 03 Desember 2018 18:00 WIB
Para pemimpin negara-negara G20 berfoto bersama di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Buenos Aires, Argentina, Jumat (30/11/2018). - Reuters/Marcos Brindicci

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah melihat pertemuan G20 memberikan dampak positif bagi perekonomian global. Namun, bayang-bayang ketidakpastian lanjutan masih harus diwaspadai.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan pertemuan tahunan G20 di Argentina sebenarnya memberikan beberapa hal yang positif, karena memberi kesempatan bagi para pemimpin dunia untuk berdiskusi dan menyelesaikan permasalahannya serta memeperhatikan risiko yang terjadi pada perekonomian global.

Menurutnya, hasilnya pun cukup baik, dia mencontohkan pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping melahirkan kesepakatan menunda penerapan tarif tambahan selama 90 hari.

"Namun, tidak berarti apa yang sudah dilakukan tarifnya sudah turun, paling tidak memberikan 3 bulan atau 90 hari bagi kedua belah pihak melihat aspek kesepakatan yang bisa dicapai, itu menenangkan [perekonomian]dari sisi awal tahun depan," jelasnya di Jakarta, Senin (3/12/2018).

Selain itu, terjadi pula diskusi antara Rusia dan Arab Saudi mengenai gejolak minyak dan bagimana mereka melihat respons dari pasar minyak dengan adanya perbedaan suplai dan proyeksi permintaan yang melemah. 

"Ini juga memunculkan suatu stabilisatas dari sisi paling tidak, kepastian supply demand [minyak], sehingga harganya tidak volatil naik secara drastis," ungkapnya.

Reformasi Perpajakan

Di samping pertemuan-pertemuan tersebut, G20 juga melahirkan hal positif lain terutama dari sisi reformasi perpajakan internasional yang terus berjalan. Bahkan menurutnya ada kesepakatan pada 2020 akan mencakup perpajakan sektor digital yang diatur secara internasional prinsip-prinsipnya

Menurutnya, kesepakatan tersebut positif, sebab selama ini transaksi digital borderless atau tidak berbatas. Sementara dari sektor keuangan, reformasi peraturan perbankan untuk bisa mengurangi dampak krisis sudah dijalankan. "Sehingga, itu bisa menjadi poin positif," imbuhnya.

Sayangnya, dia meneruskan berbagai hal positif tersebut masih dibayangi oleh ketidakpastian. Sri Mulyani melihat setidaknya ketidakpastian muncul dari dua hal, yakni mekanisme multilateral yang masih dianggap belum dapat dipercaya atau reliabel dan munculnya akumlasi risiko pada perekonomian dunia.

Oleh karena itu, lanjutnya, pesan dari G20 adalah melakukan reformasi terhadap WTO, maka yang perlu diperhatikan dan diantisipasi adalah bentuk reformasinya akan seperti apa dan bagaimana pengaruhnya kepada perdagangan dunia. 

"Selama ini perdagangan dunia itu tumbuh dua kali dari pertumbuhan ekonomi dunia, sekarang pertumbuhannya sama atau bahkan lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi dunia. Berarti ada sesuatu yang perlu direformasi dari perdagangan dunia yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan bagi seluruh ekonomi dunia," kata Sri Mulyani.

Kedua, ada beberapa hal yang muncul sebagai akumulasi risiko dalam perekonomian dunia. ini katanya, dapat menjadi salah satu beban.

"Kita juga melihat dari sisi vulnaribilitas dari resiko perang dagang yang akan kembali muncul. Jadi kita juga harus berjaga-jaga," paparnya.

Tag : g20, sri mulyani
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top