Perry Sebut Rupiah Stabil, Sri Mulyani Ingin Lebih Banyak Perusahaan IPO

Berita di kanal Finansial Bisnis.com Selasa (4/12/2018) pagi yang paling banyak dibaca membahas tentang petikan wawancara Bisnis Indonesia dengan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengenai rupiah yang lebih stabil dan neraca modal yang harus diseimbangkan, hingga Sri Mulyani yang ingin lebih banyak perusahaan IPO.
Ahmad Rifai | 04 Desember 2018 10:35 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri), dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat pengumuman Paket Kebijakan Ekonomi XVI di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (16/11/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Kutipan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo terkait nilai tukar rupiah yang lebih stabil dan neraca modal harus diseimbangkan menjadi berita kanal Finansial Bisnis.com terpopuler pagi ini Selasa (4/11/2018). 

Selain itu, Sri Mulyani bakal evaluasi insentif agar korporasi lebih banyak melantai dibursa juga menemani berita tentang Perry sebagai terpopuler pagi ini.   

Berikut 5 berita terpopuler Bisnis.com dari kanal Finansial pagi ini.

1. Perry Warjiyo: Rupiah lebih Stabil, Neraca Modal harus Diseimbangkan

Perekonomian global diwarnai situasi yang tak kondusif sejak awal tahun. Sumbernya lahir dari ketidakpastian global yang didorong beragam faktor, semisal normalisasi suku bungan dan ketegangan perang dagang.

Di tengah situasi ini, depresiasi nilai tukar rupiah dan aliran modal keluar menjadi kekhawatiran terbesar. Bank Indonesia (BI) berupaya keras untuk menghindari dampak yang lebih buruk terhadap perekonomian secara keseluruhan serta sistem keuangan.

Berikut ini petikan wawancara Bisnis Indonesia dengan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, pekan lalu.

2. BPS: Inflasi November 2018 Capai 0,27%

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) selama November 2018 mengalami inflasi sebesar 0,27%.

Adapun, inflasi tahunan dan tahun kalendernya mencapai masing-masing 3,23% dan 2,5%. Dari 82 kota yang disurvei BPS, 70 kota mengalami inflasi dan 12 kota mengalami deflasi.

Baca selengkapnya di sini.

3. Pemerintah Lirik Obligasi Negara Korea dan Jepang

Kementerian Badan Usaha Milik Negara menyebut terdapat berbagai potensi instrumen pendanaan yang dapat ditempuh untuk menekan utang perseroan pelat merah.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Kiik Ro mengungkapkan akan melanjutkan diversivikasi pembiayaan dari negara lain. Beberapa skema yang menurutnya menarik di antaranya Korea dengan Arirang Bond dan Jepang dengan Samurai Bond.

Baca selengkapnya di sini.

4. Sri Mulyani: Inflasi Pada Posisi Yang Baik

Pemerintah mengklaim dapat terus menjaga inflasi dalam posisi rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) selama November 2018 mengalami inflasi sebesar 0,27%.

Adapun, inflasi tahunan dan tahun kalendernya mencapai masing-masing 3,23% dan 2,5%. Dari 82 kota yang disurvei BPS, 70 kota mengalami inflasi dan 12 kota mengalami deflasi.

Baca selengkapnya di sini.

5. Sri Mulyani Ingin Lebih Banyak Perusahaan IPO, Insentif Dievaluasi

Pemerintah berharap perusahaan yang melantai di bursa saham semakin banyak. Salah satu upayanya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersiap mengevaluasi kebijakan perpajakan bagi para emiten.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengapresiasi 50 perusahaan yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini, sehingga tercatat total perusahaan yang ada di pasar modal mencapai 600 perusahaan.

Baca selengkapnya di sini.

Tag : Obligasi, ipo, sri mulyani, perry warjiyo
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top