Laporan Ekonomi The Fed: Optimisme Pertumbuhan Korporasi AS Mulai Pudar

Optimisme terkait prospek pertumbuhan korporasi Amerika Serikat mulai pudar kendati Bank Sentral AS (Federal Reserve) di setiap wilayah melaporkan ekspansi ekonomi masih melaju sedang hingga moderat dalam beberapa pekan terakhir.
Dwi Nicken Tari | 06 Desember 2018 11:20 WIB
the Federal Reserve di Washington D.C. - Ilustrasi/en.wikipedia.org

Bisnis.com, JAKARTA — Optimisme terkait prospek pertumbuhan korporasi Amerika Serikat mulai pudar kendati Bank Sentral AS (Federal Reserve) di setiap wilayah melaporkan ekspansi ekonomi masih melaju sedang hingga moderat dalam beberapa pekan terakhir.

“Sebagian besar distrik melaporkan bahwa perusahaan masih positif. Namun, beberapa optimisme tersebut telah menyusut karena kontraknya menyebut ketidakpastian kian meningkat akibat dampak tarif, kenaikan suku bunga, dan peregangan pasar pekerja,” tulis The Fed dalam laporan ekonomi Beige Book, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (6/12/2018).

Adapun laporan ekonomi Beige Book disusun berdasarkan informasi yang dihimpun oleh 12 cabang The Fed di negara-negara bagian AS per 26 November 2018. Laporan tersebut menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi yang sedang hingga moderat di berbagai negara bagian.

Adapun, dua negara bagian (Dallas dan Philadelphia) malah memperlihatkan pretumbuhan yang melambat sementara St. Louis dan Kansas City melaporkan kenaikan ”tipis”.

Lebih lanjut, survei tersebut tampil sesuai dengan perkiraan sebagian besar ekonom bahwa pada tahun depan pertumbuhan ekonomi akan melambat baik di AS maupun global.

Gubernur The Fed Jerome Powell pun telah memberikan sinyal pada 29 Nobember bahwa bank sentral kemungkinan memperlambat laju kenaikan suku bunganya pada tahun depan. 

Sebelumnya, dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), The Fed sempat mengumumkan bahwa kenaikan suku bunga pada tahun depan dapat dilakukan sebanyak tiga kali lagi.

Adapun perkiraan laju kenaikan suku bunga nantinya akan diperbarui dalam rapat FOMC pada 18—19 Desember 2018. Hasil laporan tersebut juga didukung oleh investor yang telah memperlihatkan kekurangan keyakinan bisnis di AS dalam beberapa waktu terakhir. 

Sejak akhir September, indeks S&P yang menjadi acuan pasar modal di AS telah turun 7%. Sementara dalam beberapa hari terakhir, yield untuk obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun turun ke bawah level 3% untuk pertama kalinya sejak melambung ke 3,24% pada September.

Adapun Beige Book juga menyinggung tentang pengetatan pasar pekerja di AS, di mana lebih dari setengah negara bagian mencatat bahwa kinerja perusahaan (dalam hal karyawan, produksi, dan ekspansi kapasitas) telah terkendala dengan ketidakmampuan menarik dan mempertahankan pekerja berkualitas.

“Sebagian karena konsekuensi dari kurangnya tenaga kerja, sebagian besar negara bagian melaporkan pertumbuhan tenaga kerja condong ke sisi yang lebih lambat dari laju sedang hingga moderat,” tulis Beige Book.

Hal itu pun diperkirakan bakal ters menekan tingkat upah, di mana sebagian besar negara bagian melaporkan pertumbuhan upah bisa bergerak lebih tinggi dari laju sedang hingga moderat.

Beige Book yang disusun oleh The Fed wilayah Philadelphia tersebut akan di-revies oleh para pembuat kebijakan menjelang Rapat FOMC bulan ini, ketika The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps untuk keempat kalinya di sepanjang 2018.

Sementara itu, secara keseluruhan, tingkat kenaikan harga juga tercatat bergerak dalam laju sedang di sebagian besar negara bagian. Beige Book menambahkan, harga properti juga terus meningkat di sebagian besar pasar.

Begitu pula masalah tarif terus dibahas dalam laporan tersebut, dengan disebut sebanyak 40 kali. 

Adapun tarif yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump di sepanjang tahun ini dituding telah membuat harga input menjadi mahal dan menyebabkan kenaikan harga di sejumlah industri.

“Laporan mengenai [dampak] meningkatnya pemberlakuan tarif telah menyebar secara luas, mulai dari manufaktur dan kontraktor hingga peritel dan restoran,” tulis laporan tersebut.

Tag : ekonomi as
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top