Milenial Berminat Miliki Rumah, BTN Siap Kurangi Separuh Backlog di Tanah Air

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menargetkan dapat berkontribusi sekitar 56,66% dari target pembangunan rumah pemerintah tahun ini. Menurut perseroan, pemerintah menargetkan dapat mengurangi angka kebutuhan rumah atau backlog sejumlah 1,5 juta unit rumah.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 10 Februari 2019  |  21:56 WIB
Milenial Berminat Miliki Rumah, BTN Siap Kurangi Separuh Backlog di Tanah Air
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Maryono (kiri) bersama Komisaris Utama I Wayan Agus Mertayasa meluncurkan logo HUT ke-69 Bank BTN, di Jakarta, Jumat (4/1/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menargetkan dapat berkontribusi sekitar 56,66% dari target pembangunan rumah pemerintah tahun ini. Menurut perseroan, pemerintah menargetkan dapat mengurangi angka kebutuhan rumah atau backlog sejumlah 1,5 juta unit rumah.
 
Direktur Utama BTN Maryono mengatakan perseroan dapat menyalurkan pembiayaan pembangunan rumah bagi 850.000 unit atau naik 13,33% dari realisasi tahun lalu sejumlah 750.000 unit rumah. Adapun  
 
"Kalau dihitung, backlog sudah berkurang 1 juta lebih. Tapi, harus diketahui backlog [berjumlah] 11 juta, [sedangkan kebutuhan rumah] yang current [per tahun] kan 400.000-an [unit rumah].Jadi, kalau 2 tahun bisa [membangun] 1 juta [unit rumah], cuma [mampu] menutup kebutuhan [tambahan per tahun]," jelasnya, Minggu (10/2/2019).
 
Maryono menambahkan secara komposisi masyarakat yang masuk dalam segmen menengah ke bawah mendominasi jumlah backlog di Tanah Air. Maka dari itu, lanjutnya, perseroan akan fokus menyalurkan pembiayaan KPR kepada segmen tersebut dalam beberapa tahun ke depan. 
 
Menurutnya, perseroan dapat memangkas jumlah backlog sebanyak 50% dalam jangka waktu 5 tahun ke depan dengna memfokuskan pembiayaan pada segmen masyarakat menengah ke bawah. 
 
Maryono berujar salah satu strategi yang dilakukan perseroan adalah melakukan transformasi digital terhadap sistem kerja dan produk. Maryono mengutarakan perseroan kini telah memiliki sistem penentuan keputusan melalui sistem digital yang membuat penyetujuan pengajuan kredit akan lebih cepat.
 
Namun demikian, imbuhnya, perseroan hanya dapat bertugas sebagai lembaga penengah antara pengembang perumahan dan end user. "Bukan eksekutor, kita kan di tengah saja, pembiayaan saja."
 
Pada akhir 2018, perseroan membukukan pertumbuhan bisnis intermediasi hampir 20% secara tahunan. Berdasarkan laporan keuangan bulanan perseroan per Desember, aset perseroan tumbuh 17,96% menjadi Rp308,4 triliun dari Rp261,5 triliun.
 
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penyaluran kredit perseroan yang naik 19,18% menjadi Rp215,7 triliun dari Rp181 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun, penghimpunan dana perseroan tercatat tumbuh mencapai 18,75% menjadi Rp211,4 triliun. 
 
Bonus Demografi
 
Seperti diketahui, komposisi usia penduduk di dalam negeri didominasi oleh generasi milenial atau penduduk berusia 20--39 tahun sebanyak 31,32% dari total populasi. Dalam 10 tahun, Tanah Air akan mendapatkan bonus demografi yang membuat penduduk dengan usia produktif mencapai 48,3%.
 
Dengan kata lain, angka backlog pun juga akan naik. Maryono berujar kebutuhan untuk memiliki rumah akan meningkat pada 2030. Namun demikian, lanjutnya, kemampuan untuk membeli rumah juga akan meningkat. 
 
Selain itu, menurutnya, kebutuhan rumah per tahun tidak lagi bertambah 400.000 unit rumah, tapi dapat mencapai 500.000 unit rumah. "Apalagi banyak milenial."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
btn, kpr, generasi milenial

Editor : Fahmi Achmad

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top