Investasi Saham Jeblok, BPJS TK Jamin Manfaat yang Diterima Pekerja Tetap Positif

Pada 2018, BPJS Ketenagakerjaan menargetkan peroleh hasil investasi senilai Rp32 triliun, sayangnya lembaga jaminan sosial tersebut hanya mampu merealisasikan 85,21%% dari target RKAT atau senilai Rp27,27 triliun. Hasil itu disebabkan gejolak pasar saham yang terjadi sepanjang 2018.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 11 Februari 2019  |  19:33 WIB
Investasi Saham Jeblok, BPJS TK Jamin Manfaat yang Diterima Pekerja Tetap Positif
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto menyampaikan paparan pada rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/2/2019). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA –Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan gagal memenuhi target hasil investasi pada 2018. Pada Rencana Kegiatan dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2018, BPJS Ketenagakerjaan menargetkan peroleh hasil investasi senilai Rp32 triliun, sayangnya lembaga jaminan sosial tersebut hanya mampu merealisasikan 85,21%% dari target RKAT atau senilai Rp27,27 triliun. Hasil investasi itu disebabkan gejolak pasar saham yang terjadi sepanjang 2018.

Kemudian perolehan nilai investasi BPJS TK pada 2018 senilai Rp364 triliun, atau 99,19% dari target yang ditetapkan pada 2018 yakni senilai Rp367 triliun.

BPJS TK membagi portofolio instrument berdasarkan UU No.40/2004 tentang SJSN, UU No.24/2011 tentang Pengelolaan Aset Jaminan Sosial Ketenagakerjaan dan PP No.55/2015 perubahan atas PP No.99/2013 tentang Pengelolaan Aset Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.

Hasilnya, sebanyak 58,82% atau senilai Rp214,62 triliun dana investasi dialokasikan di obligasi seperti surat berharga negara (SBN), 18,54% atau senilai Rp67,66 triliun di saham, 12,14% atau senilai Rp44,28 triliun di deposito, 9,88% atau senilai Rp36,02 triliun di reksa dana, 0,51% atau senilai Rp1,86 triliun di properti dan 0,11% atau senilai Rp406 miliar di penyertaan.

Sejumlah investasi tersebut memberi return yang berbeda, obligasi menghasilkan Rp17,12 triliun atau 101,12% dari target yang ditetapkan, deposito menghasilkan Rp2,43 triliun atau 99,03% dari target, saham menghasilkan Rp4,85 triliun atau 50,19% dari target, reksadana Rp2,71 triliun atau 106,15% dari target, property menghasilkan Rp140 miliar atau 56,01% dari target dan penyertaan senilai Rp11 miliar atau 5,24% dari target.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto menerangkan kondisi pasar modal yang bergejolak sepanjang 2018 menyebabkan realisasi hasil investasi tidak sesuai dengan yang diharapkan, khususnya untuk saham dan reksa dana. BPJS Ketenagakerjaan mencatat Indeks Harga Saham Gabungan sempat jatuh 15,78% pada tahun lalu.

“Ini terkait dengan kondisi market, karena sebagian besar portofolio kami investasikan di pasar saham termasuk reksadana saham yang terpapar dengan koreksi dari pasar,” kata Agus di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Agus menerangkan meski hasil investasi tidak sesuai target, namun peserta BPJS TK tetap merasakan manfaat dari investasi tersebut karena terdapat peningkatan hasil investasi dibandingkan 2017.

Berdasarkan data BPJS TK hasil investasi 2018 menunjukan pertumbuhan sebesar 5,37% dibandingkan dengan 2017 yang senilai Rp25,88 triliun. Agus menerangkan peningkatan tersebut didorong oleh penempatan investasi di obligasi yang memberi hasil positif sehingga BPJS TK tetap menorehkan pertumbuhan hasil investasi.

“Kalau dari hasil investasi ada peningkatan, itu sudah kami distribusikan dan tidak ada penurunan [distribusi hasil investasi] penurunan itukan unrealize gain, [bukan hasil]” ucap Agus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, rekomendasi saham, bpjs ketenagakerjaan

Editor : Fahmi Achmad

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top