Buka Akses untuk Penelitian, BPJS Kesehatan Luncurkan Layanan Data Sampel

Bisnis.com, JAKARTA – BPJS Kesehatan meluncurkan layanan data sampel guna memudahkan akses aktivitas bagi penelitian dan penyusunan kebijakan guna menyempurnakan penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  15:26 WIB
Buka Akses untuk Penelitian, BPJS Kesehatan Luncurkan Layanan Data Sampel
Warga antre mengurus kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (30/7/2018). - ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA – BPJS Kesehatan meluncurkan layanan data sampel guna memudahkan akses bagi aktivitas penelitian dan penyusunan kebijakan guna menyempurnakan penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakan pihaknya saat ini menjadi badan penyelenggara jaminan kesehatan dengan jumlah peserta paling banyak di dunia. Dengan begitu, jelasnya, BPJS Kesehatan menjadi salah satu sumber data terbesar di Indonesia yang dilirik banyak pihak, termasuk peneliti dan akademisi.

Namun, dia mengatakan besarnya data kepesertaan dan data jaminan pelayanan kesehatan memerlukan perhatian dan perlakuan yang khusus untuk dapat dipergunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan program JKN. Oleh karena itu, pihaknya berupaya memudahkan pengelolaan data dengan menyediakan data sampel yang bisa mewakili seluruh data kepesertaan maupun pelayanan kesehatan yang ada di BPJS Kesehatan.

“Kami melihat data yang kami miliki adalah aset yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian dan pengambilan kebijakan yang kredibel berbasis bukti (evidence based policy) dalam penyelenggaraan Program JKN-KIS. Hal ini juga sebagai salah satu wujud transparansi BPJS Kesehatan dalam memberikan informasi pada publik,” jelas Fachmi di sela-sela peluncuran Data Sampel BPJS Kesehatan: Penggunaan Big Data dalam Pengembangan Evidence Based Policy JKN, Senin (25/2/2019).

Menurutnya, pengelolaan data sampel sebagai pertimbangan pengambilan kebijakan dalam program jaminan kesehatan bukanlah hal baru di dunia. Di Korea Selatan, sambung dia, National Health Insurance Service (NHIS), yang merupakan penyelenggara jaminan kesehatan di negara itu memiliki NHIS-National Sample Cohort yang merupakan database data sampel 2% dari total populasi Korea Selatan.

Sementara itu, National Health Insurance Research Database (NHIRD) di Taiwan menjadi sumber data yang penting bagi pengambil kebijakan dan penelitian kesehatan.

“NHIRD akan memberikan data set dalam 3 bentuk, yaitu data sampel yang mencakup 2 juta subjek yang dide-identifikasi, dataset penyakit, dan data populasi lengkap.”

Adapun, data sampel BPJS Kesehatan merupakan perwakilan dari basis data kepesertaan dan jaminan pelayanan kesehatan sepanjang 2015 dan 2016 yang diambil dengan menggunakan metodologi pengambilan sampel yang melibatkan banyak pihak, termasuk akademisi.

Dalam data sampel tersebut, disajikan 111 variabel yang bisa diolah, yang terdiri atas 15 variabel kepesertaan, 23 variabel pelayanan kapitasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 20 variabel pelayanan non-kapitasi FKTP, dan 53 variabel pelayanan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yang saling terhubung melalui variabel nomor kartu peserta.

“Pembentukan data sampel ini dimaksudkan untuk mempermudah akses dan analisis data oleh publik dan dapat dipergunakan dalam proses analisis untuk menghasilkan suatu rekomendasi kebijakan,” kata Fachmi.

Untuk mengakses data sampel, masyarakat dapat mengajukan permohonan kepada Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) BPJS Kesehatan dengan melampirkan surat pengantar dari instansi, formulir permohonan informasi publik, pakta integritas, proposal penelitian, dan salinan (fotocopy) identitas diri seperti KTP.

Selanjutnya, BPJS Kesehatan akan memverifikasi berkas permohonan tersebut. Jika lengkap, PPID BPJS Kesehatan akan menyerahkan data sampel kepada pemohon.

“Data sampel BPJS Kesehatan masih akan terus dikembangkan sejalan dengan pertumbuhan peserta dan perkembangan pelayanan kesehatan.Oleh karena itu, kami butuh masukan dari berbagai pihak, baik dari akademisi, peneliti, maupun khalayak lainnya untuk menyempurnakan kualitas data sampel ini,” tambah Fachmi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bpjs kesehatan

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top