Industri Pembayaran Digital : Bank dan Fintech Berebut Pasar?

Perkembangan sistem pembayaran digital di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Jumlah pengguna dan transaksi di layanan pembayaran digital menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  15:53 WIB
Industri Pembayaran Digital : Bank dan Fintech Berebut Pasar?
Perkembangan Tekfin di Indonesia. / Ilham Nesabana - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- Hasil riset Morgan Stanley yang dipublikasikan Kamis (21/2/2019) memperlihatkan besarnya jumlah kenaikan pengguna dan transaksi pembayaran digital di Indonesia. Lembaga itu memprediksi jumlah transaksi melalui pembayaran digital akan mencapai US$50 miliar pada 2027.

Mengacu data Bank Indonesia (BI), nilai transaksi pembayaran digital atau uang elektronik menyentuh Rp47,19 triliun sepanjang 2018. Angka itu meningkat empat kali lipat dibandingkan nilai transaksi tahun sebelumnya, yang sebesar Rp12,37 triliun.

Survei yang dilakukan Morgan Stanley mengungkapkan dari 1.582 responden, 20% di antaranya lebih memilih menggunakan layanan pembayaran digital dari perusahaan teknologi finansial (tekfin) dibanding milik bank, perusahaan telekomunikasi, atau e-commerce. Rata-rata transaksi melalui pembayaran digital mencapai Rp600.000 per bulan.

Kenaikan jumlah transaksi melalui pembayaran digital disebabkan beberapa hal, seperti banyaknya diskon yang ditawarkan untuk pengguna uang elektronik, pertumbuhan signifikan kerja sama toko dengan pembayaran digital, kemunculan sejumlah tempat parkir yang hanya menerima uang digital, hingga terciptanya ekosistem ramah konsumen.

Pengemudi membayar menggunakan kartu elektronik di tol Belmera Amplas Medan, Sumatra Utara, Rabu (13/9/2017)./ANTARA-Septianda Perdana

Jumlah kenaikan transaksi digital ditopang layanan tekfin. Terbukti, dalam satu tahun terakhir pertumbuhan transaksi digital menggunakan layanan tekfin mencapai 55%, melampaui kenaikan penggunaan layanan milik e-commerce (47%), bank (41%), uang tunai (35%), dan provider seluler (33%).

Penggunaan dompet digital milik perusahaan tekfin patut mendapat perhatian. Sebab, 90% responden survei tersebut mengaku sebagai pengguna dompet digital milik perusahaan tekfin.

Jumlah itu melampaui pengguna dompet digital milik bank (65%), provider telekomunikasi (39%), dan layanan digital milik e-commerce (35%).

Dompet digital rata-rata digunakan masyarakat untuk beberapa kali transaksi dalam sebulan. Survei yang sama juga menunjukkan bahwa 38% responden masih memilih uang kas sebagai metode pembayaran sehari-hari dibanding menggunakan dompet digital milik perusahaan tekfin (20%), kartu debit (12%), RTGS (10%), dan pembayaran digital dari bank, provider seluler, serta e-commerce.

Persaingan atau Kolaborasi?
Merujuk hasil survei itu, bisnis dompet digital di Indonesia saat ini dikuasai produk-produk milik perusahaan tekfin seperti Go-Pay, OVO, dan DANA. Tercatat 73% responden mengaku memakai layanan OVO dan 71% memiliki Go-Pay, sedangkan pengguna DANA baru 1%.

Go-Pay merupakan layanan uang digital milik unicorn PT Aplikasi Karya Anak Bangsa, yang lebih dikenal sebagai Go-Jek. Kemudian, OVO adalah dompet digital kepunyaan PT Visionet Internasional, sedangkan DANA adalah produk serupa yang dimiliki PT Espay Debit Indonesia Koe.

Kepemilikan produk dompet digital milik sejumlah perusahaan tekfin ternyata melampaui pemakai layanan serupa dari bank. Padahal, sebelum perusahaan tekfin hadir, transaksi non tunai cenderung menggunakan dompet digital milik bank seperti kartu kredit, debit, atau RTGS.

Menurut Direktur Konsumer PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan, keunggulan tekfin dalam pengembangan dompet digital tak bisa dilihat sebagai kerugian bagi bank.

“Dengan bisnis model yang berbeda antara perbankan yang sudah matang versus fintech [financial technology] yang bukan berbasis hitungan profitabilitas, bentuknya lebih sebagai competition bagi kami. Kami berkolaborasi, berkooperasi dengan fintech,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (22/2).

Pengunjung mengamati kartu berlogo Gerbang Pembayaran Nasional di sela-sela peluncurannya di Jakarta, Kamis (3/5/2018)./JIBI-Felix Jody Kinarwan

Lani menyebut kehadiran tekfin mempercepat pendidikan pada masyarakat agar beralih menuju cashless dan cardless society. Hal itu dianggap bagus lantaran penggunaan uang dan kartu yang sedikit akan menguntungkan pihak bank dalam jangka panjang.

Dia mengatakan dalam tataran digital, CIMB Niaga selama ini fokus mengembangkan produk yang bernama Go-Mobile. Aplikasi itu menyediakan kemudahan bagi nasabah untuk bertransaksi mengandalkan pemindaian kode Quick Response (QR) dan Near Field Communication (NFC).

“Nasabah juga bisa pilih QR payment lewat debit, kredit ataupun e-wallet kami: rekening ponsel, yang saat ini banyak digunakan oleh partner fintech seperti Go-Jek dan Grab,” tambah Lani.

Dalam survei itu, ada 11% responden yang mengaku pengguna rekening ponsel milik CIMB Niaga. Untuk memperbesar jumlah pengguna produk uang digitalnya, bank swasta tersebut mengaku akan memperluas kerja sama dengan toko-toko offline untuk pemasangan QR statis atau mesin Electronic Data Capture (EDC).

General Manager Divisi E-Banking BNI Anang Fauzi juga mengakui tumbuhnya transaksi digital melalui layanan tekfin dan mengklaim tak ada masalah yang timbul karenanya.

Dia menganggap layanan pembayaran digital milik perusahaan tekfin atau startup sebagai pelengkap bagi perbankan dalam melayani masyarakat. Alasannya, setiap transaksi menggunakan dompet digital tekfin atau startup pasti diawali dengan proses transfer dari rekening bank pelanggan.

“Jadi Anda bisa bayangkan, uangnya di bank dan akan di-topup ke dalam uang elektronik, baru dikeluarkan lewat transaksi mereka. Sementara itu, kami [bank] tetap transaksi untuk ukuran yang agak besar. Misal kartu kredit kan untuk belanja, hampir jarang kita lewat Go-Pay karena Go-Pay kan untuk pembayaran yang kecil-kecil,” tutur Anang kepada Bisnis.

BNI tidak melihat pertumbuhan layanan pembayaran digital milik tekfin sebagai ancaman. Alih-alih tersaingi, mereka justru melihat perkembangan ini sebagai peluang kolaborasi untuk memperluas ekosistem uang digital.

Selama ini, BNI punya dua strategi untuk memperluas ekosistem pembayaran digital. Pertama, menggunakan strategi Business-to-Customer (B2C) untuk mempermudah nasabah melakukan pembayaran dengan pelayanan SMS Banking dan Mobile Banking.

Kedua, BNI memiliki strategi Business-to-Business-to-Customer (B2B2C) yang menyasar konsumen non nasabah mereka. Strategi itu diejawantahkan dalam bentuk sharing layanan pembayaran multifinance ke sejumlah tekfin atau startup.

“Misal pembayaran BPJS, listrik, telepon, kartu kredit, multifinance itu semua servis yang bank punya di-share ke mereka. Ketika transaksi kejadian, di OVO atau Go-Pay misalnya, itu sebenarnya servisnya bank. Makanya kami enggak pernah melihat ini adalah persaingan. Ini adalah metode cara membayar,” jelasnya.

Pengemudi Go-Jek membayar transaksi menggunakan Go-Pay dalam sebuah festival kuliner di Jakarta./Reuters-Beawiharta

Bank Bukan Saingan Utama
Chief Executive Officer (CEO) Go-Pay Aldi Haryopratomo menyebut saingan utama perusahaan tekfin dalam pengembangan dompet digital di Indonesia bukanlah perbankan. Dia menilai musuh terbesar pengembangan pembayaran digital justru uang tunai.

Hal ini didasarkan pada fakta bahwa pengguna layanan pembayaran digital di Indonesia sekarang masih di bawah 50%. Angka itu disebut tergolong kecil jika dibandingkan dengan negara lain seperti China atau India yang mencapai 80%.

Fintech hadir bukan sebagai kompetisi untuk bank, tapi justru menjembatani bank dengan masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan ini. Dengan kolaborasi, justru kita dapat sama-sama membantu seluruh ekosistem,” papar Aldi dalam acara MoneyLIVE di Jakarta, seperti tertulis dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.

Go-Pay disebut akan fokus menjalin kerja sama dengan perbankan dalam mengembangkan ekosistem pembayaran digital hingga tahun depan. Dengan tujuan menjadi jembatan antara perbankan dan masyarakat dalam menyediakan jasa dompet digital, Go-Pay berharap tidak diposisikan sebagai kompetitor oleh bank-bank di Indonesia.

Aldi menyampaikan kehadiran Go-Pay memangkas banyak biaya struktural yang diperlukan selama ini. Mereka juga memiliki banyak data konsumen dan hal itu diklaim bisa bermanfaat bagi dunia perbankan untuk membangun ekosistem dompet digital di Indonesia.

“Jika itu terwujud, maka setiap keluarga, atau orang yang hendak menabung untuk membeli rumah serta menyekolahkan anaknya dapat berubah cara pandangnya melihat layanan finansial. Hanya sedikit negara yang memiliki kesempatan seperti ini,” ucapnya.

Seorang konsumen membayar makanan yang dibelinya di salah satu kios di pasar malam menggunakan QR Code dari salah satu penyedia pembayaran digital di Nanning, China, Minggu (10/9/2017)./Bisnis-Annisa Margrit

Tanggapan lain diberikan Direktur OVO Harianto Gunawan. Dia memandang perkembangan industri pelayanan digital yang pesat tidak menimbulkan persaingan antara tekfin dan perbankan.

OVO menegaskan akan terus berupaya membangun ekosistem pembayaran digital yang ramah terhadap pengguna. Harianto tidak menyinggung soal persaingan dengan perbankan dalam menyediakan pelayanan digital untuk masyarakat.

"OVO terus berkomitmen untuk memberikan layanan pembayaran dan keuangan terbaik bagi pengguna, khususnya dengan membangun ekosistem yang mendukung adopsi transaksi non tunai secara holistik," tukasnya kepada Bisnis.

Meski sekarang porsi uang elektronik atau dompet digital di seluruh Indonesia belum signifikan jika dibandingkan transaksi uang tunai, tapi bukan tak mungkin dalam beberapa tahun ke depan angkanya akan terus meningkat. Apalagi, jika ekosistem yang sudah terbangun tak hanya aktif dimanfaatkan di kota-kota besar tapi hingga pelosok Tanah Air.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fokus, uang elektronik, fintech

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top