Premi Turun di Awal Tahun, Asuransi Jiwa Berharap dari Dampak Pemilu

Berdasarkan data OJK, industri asuransi jiwa mencatat penurunan nilai premi 11,20% menjadi Rp29,18 triliun pada Februari 2019 dibandingkan premi pada Februari 2018 senilai Rp32,86 triliun.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 15 April 2019  |  11:44 WIB
Premi Turun di Awal Tahun, Asuransi Jiwa Berharap dari Dampak Pemilu
Karyawati mengamati daftar produk asuransi di kantor pusat PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Mandiri Inhealth), Jakarta, Selasa (4/3/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

 Bisnis.com, JAKARTA – Premi asuransi jiwa Indonesia mengalami penurunan pada awal tahun. Namun demikian, pemilihan umum (Pemilu) diyakini jadi faktor yang bisa meningkatkan kinerja asuransi karena banyaknya uang beredar.

Berdasarkan data OJK, industri asuransi jiwa mencatat penurunan nilai premi 11,20% menjadi Rp29,18 triliun pada Februari 2019 dibandingkan premi pada Februari 2018 senilai Rp32,86 triliun. Capaian tersebut jauh lebih rendah ketimbang pertumbuhan premi asuransi jiwa pada akhir 2018 yang hanya 1,20% atau Rp186,05 triliun dibanding premi pada 2017 senilai Rp183,84 triliun.

Penurunan juga terjadi pada hasil investasi Februari 2019, hasil investasi asuransi jiwa turun hingga 29,20% menjadi Rp5,65 triliun secara tahunan. Kendati masih menurun, hasil investasi sudah menunjukkan angka positif sejak Desember 2018 yakni Rp6,62 triliun, anjlok 86,14%  (year on year).

Perbaikan kinerja ini seiring dengan indeks harga saham gabungan yang cenderung menguat sejak akhir tahun lalu. Hal itu juga diikuti dengan mulainya perusahaan untuk mengubah alokasi investasi ke instrumen yang bersifat jangka panjang, seperti obligasi pemerintah.

Pada tahun lalu, kinerja hasil investasi terus merosot akibat penurunan harga pasar untuk saham dan reksa dana sebagai dampak perang dagang global. Sekitar 33,87% dana kelolaan sektor ini ditempatkan di reksa dana. Sebesar 32,9% lainnya dialokasikan ke saham.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatakan penurunan premi pada awal tahun ini merupakan hal yang biasa terjadi. Asosiasi telah memprediksi kenaikan premi asuransi jiwa mencapai 10%—20%. Dia juga meyakini premi baru akan semakin meningkat, ketimbang premi lanjutan. Hal ini juga seiring dengan inovasi yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan asuransi.

“Satu tahun ada 12 bulan, nanti pasti akan naik. Kira-kira dua digit. Peristiwa yang terjadi seperti kampanye sekarang artinya banyak uang yang beredar. Justru itu akan meningkatkan premi, khususnya April,” ujarnya, Jumat (12/4/2019).

Mulai awal tahun ini, asosiasi menghimbau pemain asuransi jiwa memperbanyak produk premi regular dan tidak mengandalkan premi tunggal (single premium). 

“Bahwa itu masih ada masih ada, tidak masalah. Bukan berarti salah. Namun ada baiknya dikombinasi dengan produk lain yang sifatnya reguler supaya masyarakat pilihannya lebih banyak,” katanya.

Salah satu yang menjadi kekhawatiran asosiasi adalah kinerja hasil investasi. Namun, dalam momen pemilihan umum, justru dia meyakini hal ini akan menjadi pemicu kenaikan minat masyarakat untuk berinvestasi.

“Dalam pemilu 2014, dalam satu hari rekor pertama kali Rp4 triliun masuk ke pasar saham saat presiden terpilih. 2019 akan lebih tinggi dari itu,” lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asuransi jiwa

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top