Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Kasih Sinyal 'Tipis-Tipis' soal Penurunan Suku Bunga

Bank Indonesia memberikan sinyal pemangkasan kebijakan suku bunga dalam waktu dekat sejalan dengan rencana kalibrasi bauran kebijakan untuk mendorong ekonomi.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara (kanan), didampingi Kepala Departemen Komunikasi Onny Widjanarko memberikan penjelasan saat buka puasa bersama di Jakarta, Senin (27/5/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara (kanan), didampingi Kepala Departemen Komunikasi Onny Widjanarko memberikan penjelasan saat buka puasa bersama di Jakarta, Senin (27/5/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia memberikan sinyal pemangkasan kebijakan suku bunga dalam waktu dekat sejalan dengan rencana kalibrasi bauran kebijakan untuk mendorong ekonomi.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan pihaknya akan terus mengkalibrasi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan juga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dia menambahkan BI akan merespon lebih jauh baik dari sisi suku bunga, kecukupan dari likuiditas, relaksasi makroprudensial, akselerasi pendalaman pasar keuangan, sistem pembayaran dan ekonomi keuangan syariah. "Kami akan review dari waktu ke waktu dengan melihat kondisi global," kata Perry di sela-sela halal bihalal, Senin (10/06/2019).

Dia menambahkan BI akan terus memperkuat bauran kebijakan dengan terus bersinergi pemerintah dengan OJK dan LPS dengan dunia usaha, serta dunia perbankan dan sektor keuangan.

Kepala Ekonom PT Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro menuturkan sebelumnya Bahana berpendapat bahwa pemotongan suku bunga BI akan tergantung pada momentum sehingga rupiah akan tetap stabil.

Namun, Bahana kini melihat kondisi saat ini lebih mendukung bagi penurunan suku bunga BI, ketika peningkatan rating kredit Indonesia dari S&P, sinyal penurunan suku bunga AS, pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil surat utang AS, penurunan tajam harga minyak, dan pemotongan suku bunga yang sudah dilakukan oleh sejumlah bank sentral di Asia.

"Kami ragu jika faktor-faktor ini akan kembali terjadi pada waktu bersamaan lagi tahun ini, sehingga bulan ini [Juni] adalah waktu yang tepat bagi bank sentral untuk memotong suku bunga dari level 6%," ujar Satria, Senin (10/06/2019).

Otoritas moneter di seluruh dunia tengah mengubah arah kebijakan sebagai respon terhadap dinamika pasar global. Sikap fleksibel ini seharusnya dapat diikuti oleh BI. 

Gubernur Fed Jerome Powell, bahkan tidak malu untuk meninggalkan memberi sinyal penurunan suku bunga seperti yang nanti pasar. 

Menurut Satria, pernyataan Gubernur Perry terkait kalibrasi kebijakan, termasuk respons suku bunga yang tepat, merupakan langkah serupa. "Untuk BI, pemangkasan suku bunga minggu depan [19-20 Juni] juga akan lebih masuk akal karena pertemuan itu akan diadakan setelah pertemuan FOMC AS [18-19 Juni], di mana The Fed diperkirakan akan memberikan sinyal dovish yang lebih kuat," kata Satria.

Sementara itu, BI akan menempuh ketidakpastian yang lebih besar ke depan karena Rapat Dewan Gubernur BI berikutnya akan diadakan pada 17-18 Juli dan 21-22 Agustus dan FOMC Fed akan diadakan sebelumnya, yakni 30-31 Juli dan 17-18 September.

Secara momentum, ini akan menimbulkan risiko lebih besar bagi BI jika ingin melonggarkan kebijakan moneter.

Satria menambahkan BI seharusnya tidak perlu khawatir terkait dengan tekanan di neraca perdagangan karena kondisi ini tidak menghalangi bank sentral di Asia Pasifik untuk memangkas suku bunga.

Dalam dua bulan terakhir, bank sentral Australia, India, Malaysia and Filipina telah memangkas suku bunga sebagai antisipasi pelemahan ekonomi di dalam negeri. 

"Penurunan suku bunga diambil meskipun negara-negara ini mengalami pelemahan ekspor yang menghantam neraca eksternalnya. Kami melihat ini adalah fenomena global," kata Satria.

Menariknya, pemangkasan suku bunga dari bank sentral tersebut direspon 'datar' oleh pasar uang di negara-negara tersebut. Hal ini juga dipengaruhi pula oleh dolar indeks yang melemah.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI) Ryan Kiryanto menuturkan risiko pemangkasan suku bunga pada bulan ini lumayan besar. "Jangan dulu, lihat inflasi Juni yang kayaknya masih cukup tinggi sebagai ekses lebaran Idulfitri," kata Ryan.

Dia menambahkan suku bunga NI yang ditahan akan menarik arus modal masuk ke dalam negeri, di saat negara-negara lain menurunkan suku bunga acuan.

Menurutnya, kalibrasi kebijakan BI akan lebih difokuskan kepada instrumen nonsuku bunga dengan mengutak-atik besaran GWM, LTV, RIM dan lain sebagainya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hadijah Alaydrus
Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper