Bank Jateng Dapat Dana Segar Rp660 Miliar

Dana tersebut diperoleh dari suntikan pemegang saham dan penerbitan Medium Term Notes (MTN).
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 18 Juni 2019  |  17:09 WIB
Bank Jateng Dapat Dana Segar Rp660 Miliar
Direktur Utama Bank Jateng Supriyanto (kedua kiri) dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kedua kanan) pada konferensi pers Borobudur Marathon 2019 Powered Bank Jateng, di Jakarta, Selasa (18/6/2019). - Bisnis/M. Richard

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) akan mendapat suntikan dana segar senilai Rp660 miliar guna mendukung pengembangan bisnis pada paruh kedua tahun ini.

Direktur Utama Bank Jateng Supriyanto menyatakan dana segar tersebut berasal dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng senilai Rp160 miliar dan penerbitan surat utang jangka menengah (Medium Term Notes/MTN).

"Kami ada aksi korporasi, yakni penyuntikan dana dari Pemprov Jateng dan penerbitan MTN dulu, tahun ini," katanya usai konferensi pers Borobudur Marathon 2019 Powered Bank Jateng, di Jakarta, Selasa (18/6/2019).

Supriyanto menuturkan sepanjang paruh pertama 2019, pertumbuhan penyaluran kredit Bank Jateng masih belum menggeliat. Perseroan baru mampu membukukan pertumbuhan kredit sekitar 5 persen pada semester pertama tahun ini.

Tetapi, pada paruh kedua, bank yang 53,29 persen sahamnya milik Pemprov Jateng itu akan menggenjot kredit untuk mengejar target. 

"Kami berencana untuk menggenjot kredit hingga 12-13 persen, sama seperti pertumbuhan industri lah," terangnya.

Perseroan akan tetap menggenjot kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan konsumer dari pegawai serta pensiunan. 

Untuk kredit UMKM, Supriyanto melanjutkan perseroan sedang mengembangkan sebuah fasilitas kredit untuk membantu masyarakat pedesaan membuat homestay. Plafon kredit ini mencapai Rp25 juta, yang ditujukan untuk merenovasi rumah yang nantinya diubah menjadi homestay.

"Kredit ini tanpa agunan, jadi akan cepat terserap. Tahun ini, 500-1.000 nasabah bisa kami jangkau lah," ujarnya.

Selain itu, perseroan menyampaikan sedang meningkatkan belanja promosi untuk menggenjot kredit konsumer, yang porsinya mencapai 50 persen.

"Kredit ini besar dan memiliki risiko kredit yang landai. Ini bisa menjadi motor peningkatan kredit kami," tutur Supriyanto.

Menurutnya, target pertumbuhan kredit dua digit tersebut masih relevan karena banyak acara-acara besar yang terjadi di daerah-daerah operasionalnya, terutama Jateng. Salah satu acara yang dijadikan andalan adalah Borobudur Marathon, yang diyakini bakal meningkatkan animo masyarakat Jateng dan sekitarnya untuk lebih banyak berwisata.

Hal ini akan meningkatkan penarikan modal kerja untuk sektor UMKM dan fasilitas kredit tanpa agunan yang banyak dimiliki oleh Aparat Sipil Negara (ASN) di daerah.

Di sisi lain, Supriyanto menyampaikan rencana Initial Public Offering (IPO) masih belum dapat direalisasikan karena menunggu kondisi pasar saham lebih stabil. 

Pada perdagangan perdana 2019, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi 6.181 dan meningkat secara gradual ke kisaran 6.500 pada awal Februari 2019. Namun, pada Mei 2019, indeks turun ke level 5.800.

Pada Selasa (18/6), IHSG ditutup menguat 1,08 persen atau 66,81 persen ke level 6.257,33. Sepanjang hari ini, IHSG bergerak di kisaran 6.195,13-6.257,33.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kredit, bank jateng

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top