BRI Kantongi Pendapatan Fee Rp41,6 Miliar dari Bisnis Remitansi

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. fokus memacu perkembangan segmen bisnis pengiriman uang dari luar negeri atau remitansi.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 20 Juni 2019  |  11:44 WIB
BRI Kantongi Pendapatan Fee Rp41,6 Miliar dari Bisnis Remitansi
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. fokus memacu perkembangan segmen bisnis pengiriman uang dari luar negeri atau remitansi.

Bisnis remitansi dinilai memiliki potensi yang besar karena dapat meningkatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) serta pendapatan dari jasa pengiriman atau Fee Based Income (FBI).

Direktur Utama Bank BRI Suprajarto mengatakan perseroan akan terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan transaksi bisnis remitansi sekaligus menggenjot pendapatan berbasis komisi.

"Transaksinya akan terus didorong dan kami akan membenahi teknologinya karena kami yakin masih banyak potensi yang akan bisa lebih digali dengan pemanfaatan teknologi. Untuk saat ini, memang pendapatan fee dari remitansi belum sesuai harapan," paparnya kepada Bisnis, seperti dikutip pada Kamis (20/6/2019).

Dihubungi secara terpisah, Corporate Secretary Bank BRI Bambang Tribaroto mengungkapkan hingga Mei 2019, total volume transaksi remitansi yang dibukukan BRI mencapai Rp218 triliun. Nilai ini tumbuh sebesar 14  persen secara year-on-year (yoy).

Dari total transaksi tersebut, jumlah pendapatan komisi yang dihasilkan sebesar Rp41,6 miliar.

"Hingga Mei 2019, transaksi incoming TKI dari Malaysia menjadi penyumbang terbesar fee based remitansi BRI yang nilainya mencapai Rp17,01 miliar dengan volume remitansi Rp5,08 triliun," ujarnya.

Pendapatan fee dari transaksi pengiriman uang TKI merupakan kontributor terbesar dengan jumlah Rp34,16 miliar per Mei 2019. FBI tersebut didapat dari volume transaksi sebesar Rp12,79 triliun yang berasal dari TKI di berbagai negara seperti Malaysia, Taiwan, Korea Selatan (Korsel), Jepang, Hongkong, Taiwan, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi.

Perseroan optimistis pasar remitansi masih memiliki prospek bisnis yang cukup bagus tahun ini dan diproyeksikan dapat terus tumbuh siginifikan.

“Dengan jaringan counterpart di luar negeri dan jaringan unit kerja yang tersebar luas, kami yakin bisa mencatatkan pertumbuhan FBI dari remitansi mencapai Rp140 miliar pada akhir tahun ini,” lanjut Bambang.

Saat ini, terdapat 9.545 outlet yang terdapat di 69 counterpart BRI yang tersebar di berbagai negara, antara lain AS, Qatar, Bahrain, Singapura, Brunei Darussalam, Kuwait, Yordania, Australia, Timor Leste, serta negara-negara yang merupakan kantong TKI yakni Malaysia, Taiwan, Korsel, Jepang, Hongkong, Taiwan, UEA, dan Arab Saudi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bri, TKI

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top