AAJI Optimistis Asuransi Jiwa Masih Bisa Bertumbuh

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia optimistis industri asuransi jiwa masih mampu membukukan pertumbuhan bisnis pada akhir 2019, kendati pada awal tahun ini realisasinya melambat dibandingkan tahun sebelumnya.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 21 Juni 2019  |  11:14 WIB
AAJI Optimistis Asuransi Jiwa Masih Bisa Bertumbuh
Pengunjung beraktivitas di dekat logo asuransi jiwa di gedung Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, Rabu (9/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia optimistis industri asuransi jiwa masih mampu membukukan pertumbuhan bisnis pada akhir 2019, kendati pada awal tahun ini realisasinya melambat dibandingkan tahun sebelumnya.

Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon menjelaskan terdapat sejumlah catatan terkait realisasi kinerja industri asuransi jiwa pada kuartal I/2019 yang dilaporkan asosiasi. Pertama,jelasnya, terjadi pergeseran porsi antara premi tunggal atau single premium dan premi reguler ataureguler premium terhadap total pendapatan premi sektor jasa keuangan ini.

Menurutnya, pada kuartal I/2018, premi tunggal yang diperoleh industri mencapi 54%, sedangkan premi reguler mencapai 46%. Komposisi itu berbalik pada triwulan pertama tahun ini.

“Pada kuartal I/2019, porsi premi reguler naik menjadi 54%, sedangkan single premium dari 54% turun ke 46%,” ujarnya, Kamis (20/6/2019).

Kondisi ini, kata Budi, membuka potensi penerimaan bagi asuransi jiwa ke depan. Pasalnya, premi reguler mengandaikan perusahaan asuransi jiwa memeroleh pendapatan secara berkala dalam beberapa waktu ke depan.

Untuk premi tunggal, jelasnya, hanya dibayarkan sekali kepada perusahaan asuransi jiwa, kendati nilainya besar.

“Ini lebih sustain sehingga industri asuransi jiwa pada tahun-tahun mendatang lebih baik karena lebih ada kepastian pendapatan premi,” ujarnya.

Catatan kedua, kata Budi, data yang disajikan pihaknya ini relatif tidak bisa dibandingkan begitu saja. Pasalnya, data rekapitulasi pada tahun ini hanya dikumpulkan dari 59 perusahaan asuransi jiwa dari total anggota AAJI yang mencapai 60 entitas.

Padahal, jelasnya, satu perusahaan yang belum menyerahkan laporan tersebut memiliki kontribusi yang signifikan bagi industri dalam beberapa tahun terakhir.

Di samping itu, Budi menilai umumnya pemasaran produk asuransi jiwa akan lebih masif pada paruh kedua tahun.

“Kalau kami padukan denganpattern di industri asuransi jiwa, bahwa meningkat pesar pada semester kedua, dan jika pada kuartal II/2019 kira-kira lebih stabil, maka kami masih yakin pada akhir tahun industri asuransi jiwa masih tumbuh. Namun, apakah bisadouble digit, perlu kita lihat sama-sama.”

Wiroyo Karsono, Ketua Bidang Kerja Sama dan Hubungan Internasional AAJI, juga menjelaskan selama ini kontribusi kanal pemasaran bancassurancememang signifikan lantaran didominasi oleh produk dengan premi tunggal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asuransi jiwa

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top