Bingung Pilih Reksa Dana? Yuk, Kenali Jenis Reksa Dana dan Risikonya

Dari berbagai macam instrumen investasi, reksa dana bisa menjadi salah satu pilihan investasi yang cocok bagi investor yang memiliki keterbatasan waktu dan modal.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  13:51 WIB
Bingung Pilih Reksa Dana? Yuk, Kenali Jenis Reksa Dana dan Risikonya
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Dari berbagai macam instrumen investasi, reksa dana bisa menjadi salah satu pilihan investasi yang cocok bagi investor yang memiliki keterbatasan waktu dan modal.

Investor tak perlu pusing meluangkan waktu untuk menghitung risiko atas investasi mereka karena reksa dana dikelola oleh pihak profesional yang disebut Manajer Investasi. Selain itu, modal awal yang dibutuhkan untuk pembukaan awal reksa dana sangat terjangkau, ada yang minimal Rp100.000 dan bahkan ada yang Rp10.000.

Namun bagi investor pemula atau yang masih awam, seringkali kesulitan untuk memilih jenis reksa dana yang sesuai dengan tujuan investasinya. Reksa dana memang terdiri atas beberapa jenis dengan tingkat risikonya masing-masing.

Nah, agar investasi reksa dana tidak salah sasaran, ada baiknya calon nasabah mengenal jenis dan karakteristik reksa dana sebagaimana berikut:

1. Reksa dana pasar uang

Kebijakan pada reksa dana jenis ini adalah menempatkan 100% invetasinya ke dalam efek utang atau instrumen pasar uang yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun. Instrumen keuangan yang dimaksud antara lain, seperti giro, deposito, dan obligasi dengan sisa jatuh tempo kurang dari setahun.

Dibandingkan jenis reksa dana lainnya, reksa dana pasar uang memiliki risiko paling rendah. Seiring dengan potensi kerugiannya lebih kecil, maka imbal hasilnya pun juga relatif lebih kecil dibandingkan reksa dana lainnya.

Namun demikian, imbal hasilnya masih tetap menarik karena bisa lebih tinggi dibandingkan bunga deposito bank pada umumnya. Kelebihan lainnya, reksa dana pasar uang mudah dan cepat dicairkan.

Karena karakteristiknya tersebut, Perencana keuangan dari OneShildt Financial Planning Budi Raharjo menilai reksa dana pasar uang cocok bagi investor yang ingin berinvestasi dalam waktu jangka pendek.

"Kalau untuk investasi jangka pendek, dananya dibutuhkan di bawah 1 tahun. Semua perencana keuangan sepakat lebih baik penempatan di reksa dana pasar uang," ujarnya kepada Bisnis.com.

"Risiko fluktuasi cenderung rendah, meskipun suku bunga turun ada implikasi kinerja pasar uang turun. Tapi untuk terjadi kemungkinan minus sangat kecil dibandingkan saham yang bisa saja untung tinggi, tapi bisa juga kinerja negatif. Pasar uang cenderung stabil," lanjut Budi.

2. Reksa dana pendapatan tetap

Pada reksa dana ini, kebijakan investasinya menempatkan minimal 80% dana investasi pada surat utang atau obligasi. Surat utang secara konsisten memberikan bagi hasil berupa bunga (kupon) yang tetap. Itulah sebabnya reksa dana ini disebut pendapatan tetap.

Reksa dana ini cocok bagi investor dengan profil konservatif atau yang ingin memenuhi tujuan keuangannya dalam rentang waktu 1-3 tahun.

3. Reksa dana campuran

Reksa dana campuran berisi instrumen saham, obligasi, dan pasar uang. Penempatan dana pada ketiga instrumen tersebut maksimal 79% dari dana kelolaan.

Tingkat risiko reksa dana campuran berada di atas tingkat risiko pendapatan tetap.

"Untuk yang ingin berinvestasi jangka menengah cenderung reksa dana yang mix (campuran). Di mana biasanya jangka menengah pendek itu 3-5 tahun," kata Budi.

4. Reksa dana saham

Pada reksa dana ini, minimal sebanyak 80 persen dananya ditempatkan pada instrumen saham.

Berinvestasi pada reksa dana saham mirip dengan membeli saham secara langsung. Bedanya pada reksa dana saham, pemilihan saham dilakukan oleh manajer investasi. Risiko membeli saham langsung juga lebih besar karena karena diperlukan kelihaian investor dalam menganalisa pergerakan saham.

Dibandingkan reksa dana jenis lainnya, reksa dana saham berpotensi memberikan tingkat keuntungan yang paling tinggi. Namun tingkat risikonya juga paling tinggi dibandingkan lainnya.

"Karena reksa dana saham sangat volatile (penuh gejolak) dan sensitif terhadap isu-isu ekonomi, jadi harus tetap berhati-hati. Tetap gunakan reksa dana saham untuk investasi jangka panjang," kata Budi.

Reksa dana jenis ini cocok untuk investasi jangka panjang di atas 5 tahun atau investor dengan profil risiko agresif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top