DEPUTI GUBERNUR BI DODY BUDI WALUYO : "Kami Bukan Manusia yang Suka Bunga Tinggi"

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo blak-blakan berbicara tentang kebijakan moneter dan kondisi ketidakpastian global saat ini.
Puput Ady Sukarno & Sri Mas Sari Puput Ady Sukarno & Sri Mas Sari | 11 September 2019 10:28 WIB
DEPUTI GUBERNUR BI DODY BUDI WALUYO :
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo berdialog dengan Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Hery Trianto saat melakukan kunjungan ke redaksi Bisnis Indonesia, Senin (2/9/2019) - Bisnis/Gloria Fransisca

Bisnis.com, JAKARTA — Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo, pekan lalu berkesempatan mengunjungi kantor Harian Bisnis Indonesia. Kunjungannya bersama sejumlah jajaran Departemen Komunikasi BI tersebut untuk membuka ruang dialog terkait dengan kebijakan moneter dan kondisi ketidakpastian global saat ini. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana BI melihat perkembangan nilai tukar saat ini?

Untuk nilai tukar, memang kami sekarang melihatnya, prolonged currency, dari sisi perdagangan ada trade war, prolonged dari kemungkinan IT war. Yang baru dari pertemuan bank sentral di regional Asia Pasifik, tiga risiko yang mereka yakini sampai akhir tahun adalah trade war prolonged, IT war prolonged, dan currency war prolonged.

Tiga risiko itu sama dengan assessment kami pada bulan lalu. Itu menjadi semacam keyakinan kami bahwa akan ada kepastian dalam ketidakpastian. Kalau dulu tidak pasti, sekarang akan membaik atau memburuk. Makanya prolonged, paling tidak sampai akhir tahun. Dengan risiko itu, kita akan tahu seberapa dampaknya terhadap rupiah karena semua terkena, emerging terkena.

Sekarang konteksnya, dengan kondisi prolonged ini, masih agak mengoreksi sedikit nilai tukar. Pertumbuhan dunia itu kemungkinan pada pertengahan September akan keluar proyeksi baru dari IMF, bahwa IMF itu baru mengoreksi pada Juni ketika pertumbuhan dunia turun menjadi 3,2%.

Pertumbuhan 3,2% itu, hanya karena satu negara, yaitu Amerika. Itu yang menopang Amerika tumbuh sampai 2,9%. Dengan kejadian sebulan lalu Trump menaikkan tarif, diperkirakan dampak ke globalnya turun. September akan ada koreksi ke bawah, kecuali Amerika.

Dengan kepastian itu, sekarang semua negara membuat kebijakan akomodatif di suku bunganya. Kita sudah bicara empat negara di region, yakni Thailand, Filipina, India. Artinya, semua sudah antisipasi bahwa mereka harus topang pertumbuhan. Apapun, semua negara di emerging sekarang mengoreksi ke bawah.

Bank Indonesia awalnya mengatakan sedikit di bawah titik tengah 5,2%. Gubernur BI beberapa kali menyebut menurunkan di batas bawah range. Apa artinya?

Itu sebetulnya memang secara global memang turun, dan Indonesia relatif bisa mengoreksi tidak sedalam negara lain. Singapura pertumbuhannya sudah 0,1% sampai 2019. Artinya, mereka lebih parah. Dengan gambaran itu, kemarin kami menurunkan suku bunga yang pertama kali. Itu sebetulnya cukup dipandang positif untuk menopang pertumbuhan.

Dengan kondisi itu lalu bagaimana nilai tukarnya?

Nilai tukar sebenarnya, kalau kami melihat suku bunga dipotong 25 basis poin, kami melihat yield curve, yield potential kita dengan negara lain yang sudah memotong suku bunganya, itu relatif masih kompetitif, menarik. Oleh karena itu, masih terlihat dari sisi aliran modalnya masih masuk.

Kedua, kalau kami cut lagi 25 basis poin dua minggu yang lalu, kami melihat akan menopang pertumbuhan sedikit lebih tinggi dari angka yang kami proyeksikan. Dengan koreksi pun, ada potential growth yang muncul. Jadi, investor sebetulnya melihat dua hal.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag : bank indonesia
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Hot Topic

Top