CAD dan Inflasi Terkendali, BI Siap Pangkas Lagi Suku Bunga

Head of Research Macroeconomics and Financial Sector Policy Febrio N. Kacaribu menyatakan penurunanan bunga tak terduga bulan lalu menyiratkan kekhawatiran Bank Indonesia atas risiko perlambatan ekonomi domestik. Hal ini mendorong BI mengubah arah kebijakannya menjadi kebijakan yang mendukung pertumbuhan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 18 September 2019  |  14:31 WIB
CAD dan Inflasi Terkendali, BI Siap Pangkas Lagi Suku Bunga
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Bisnis.com, JAKARTA -- Posisi current account deficit atau defisit transaksi berjalan dinilai semakin membaik disertai laju inflasi yang terkendali, diperkirakan bakal menjadi pertimbangan bagi  Bank Indonesia untuk kembali memangkas suku bunga bulan ini.

Menurut Febrio N. Kacaribu, Head of Research Macroeconomics and Financial Sector Policy LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, penurunan bunga tak terduga bulan lalu menyiratkan kekhawatiran Bank Indonesia atas risiko perlambatan ekonomi domestik.

Hal ini mendorong BI mengubah arah kebijakannya menjadi kebijakan yang mendukung pertumbuhan.

Menurut Febrio, laju inflasi tercatat rendah dan stabil. Meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal II/2019 hanya 5,05% atau lebih rendah dari perkiraan, ekonomi domestik terlihat menarik bagi investor asing.

Dari sisi eksternal, ketegangan perang dagang AS-Tiongkok yang mulai mereda, ditambah kemungkinan penurunan suku bunga the Fed pada pertemuan FOMC mendatang berkontribusi pada masuknya investasi portfolio.

Sementara itu dari sisi kinerja neraca berjalan, LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia melihat beberapa tanda perbaikan membuat CAD dapat lebih mudah untuk dikelola sampai akhir tahun.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, Febrio menduga akan membuka ruang bagi BI untuk memberi kelonggaran lebih lanjut pada kebijakan moneter.

"Kami melihat bahwa BI perlu melanjutkan stance pelonggaran dengan melakukan penurunan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin bulan ini," ujar Febrio melalui siaran pers, Rabu (17/9/2019).

Terkait dengan tingkat inflasi tahunan meningkat lebih cepat pada Agustus menuju angka tertinggi sejak Desember 2017, menjadi 3,49% (yoy) dari 3,32% (yoy) pada bulan sebelumnya, dinilai aman karena berada dalam target Bank Indonesia.

Sementara itu untuk inflasi bulanan tumbuh 0,12% (mtm) pada Agustus, lebih rendah 0,31% (mtm) pada bulan sebelumnya. Febrio menilai inflasi bulanan pada Agustus didorong oleh kenaikan pada harga tekstil dan biaya pendidikan mengingat sekolah dan perguruan tinggi yang tengah memulai tahun ajaran baru.

"Ketidakpastian di pasar global, yang membuat investor mengalihkan portofolio ke aset yang lebih aman, seperti emas, juga mempengaruhi naiknya indeks harga konsumen," jelasnya.

Febrio memprediksi emas telah memberi andil sebesar 0,05%. Pada sisi lain, volatile foods mengalami deflasi sebesar 0,25% (mtm) pada Agustus, melambat 0,89% (mtm) dari inflasi bulan sebelumnya karena bertepatan dengan musim panen.

Demikian pula untuk administered prices yang tetap mengalami tekanan deflasi yang tercatat sebesar -0,40% (mtm) dibandingkan dengan -0.36% (mtm) pada bulan sebelumnya sebagai hasil dari adanya penyesuaian tarif angkutan udara, terlebih untuk low-cost carriers.

Selain itu, komitmen pemerintah untuk tidak meningkatkan government-regulated assistance seperti subsidi harga bahan bakar dan tarif dasar listrik juga ikut berkontribusi pada tingkat inflasi yang stabil.

Di sisi lain, baik inflasi inti tahunan dan bulanan melonjak ke level 3,30% (yoy) dan 0,43% (mtm) dari 3,18% (yoy) dan 0,33% (mtm) pada Juli.

"Maka secara umum, inflasi yang terkendali dan potensi melambatnya perekonomian seharusnya memberikan dorongan yang cukup untuk BI menurunkan suku bunga kebijakan," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suku bunga acuan

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top