LAPORAN DARI CHINA: Luhut Blak-blakan dengan Pengusaha China

“Kalau ada masalah investasi di Indonesia jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Saya pastikan tidak ada lagi pungutan-pungutan biaya yang tidak jelas. Itu sudah instruksi Presiden.”
Gajah Kusumo
Gajah Kusumo - Bisnis.com 22 September 2019  |  05:59 WIB
LAPORAN DARI CHINA: Luhut Blak-blakan dengan Pengusaha China
Pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, yang juga Pimpinan Delegasi Indonesia, dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dengan sejumlah pengusaha-pengusaha China dalam forum The 16th China-Asean Business and Investment Summit 2019 (CABIS). Sabtu (21/9/2019). - Bisnis/Gajah Kusumo

Bisnis.com, NANNING, China – “Kalau ada masalah investasi di Indonesia jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Saya pastikan tidak ada lagi pungutan-pungutan biaya yang tidak jelas. Itu sudah instruksi Presiden.”

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menegaskan hal itu berkali-kali dalam pertemuan dengan sejumlah pengusaha dalam forum The 16th China-Asean Business and Investment Summit 2019 (CABIS).

Sesi dialog CABIS 2019 yang diadakan di Hotel Grand Metropark, Nanning, China, Sabtu (21/9/2019) dihadiri sejumlah pengusaha China dan Asean, diantaranya Chairman China Datang Corporation Limited Chen Feihu, Vice President of China Communications Construction Company Wen Gang, Chief Economist China Development Bank Liu Yong, Vice President SGMW Automobile Co. Ltd. Yao Zuoping, dan GM PT Well Harvest Winning Alumina Refinery Zang Jinjun.

Sejumlah pengusaha yang hadir mempertanyakan berbagai kebijakan Pemerintah Indonesia dalam masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang kedua ini, terutama menyangkut soal kepastian berusaha dan investasi serta berbagai peluang-peluang baru.

Menyangkut soal peluang investasi, Chairman China Datang Corporation Limited mempertanyakan soal rencana pemindahan ibu kota sebagai pusat pemerintahan ke Kalimantan Timur dan strategi pemerintah di bidang energy.

Jawaban Luhut, yang dalam 16th China-ASEAN Expo (CAEXPO) dan CABIS 2019 bertindak selaku pemimpin Delegasi Indonesia, yaitu Ibu Kota baru nantinya merupakan kota yang clean energy.

“Walaupun ibu kota baru nantinya berada di wilayah yang kaya akan batu bara, tidak akan menggunakan coal,” tegasnya.

Luhut menyebutkan dia belajar dari Beijing pada 10 tahun lalu saat penyelenggaraan Olimpiade 2008, di mana kualitas udara saat penyelenggaraan pesta olah raga dunia itu sempat menjadi kritikan karena dianggap mengkhawatirkan.

“China berhasil mengatasi kualitas udara dan lingkungan hidup. Saya bandingkan itu.”

Terkait dengan pertanyaan Wen Gang mengenai strategi infrastruktur di Tanah Air, termasuk di ibu kota baru, Luhut menegaskan akan banyak peluang baru, dari mulai jalan tol, mobil listrik hingga light rail transit (LRT).

“Ibu kota baru adalah clean energy city. Banyak pekerjaan di sana [ibu kota baru]. Kalau ada masalah hubungi saja kami. Yang pasti pemerintahan sudah sangat berubah,” tegasnya.

Dia tidak merisaukan soal tudingan dan kekhawatiran terhadap masifnya investasi China di Tanah Air. Baginya, penetrasi pengusaha asing tetap harus memberikan keuntungan yang lebih besar bagi Indonesia.

“Kedua negara harus saling untung dalam menikmati buah dari kerja sama. China punya kelebihan modal dan Indonesia punya berbagai macam energy,” tegasnya.

 Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia-China periode Januari—Juli 2019 tercatat sebesar US$39,69 miliar, turun 2,68% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya sebesar US$40,79 miliar.

Adapun, ekspor RI ke Negeri Panda sepanjang Januari—Juli 2019 senilai US$14,78 miliar, turun 6,54% dari ekspor periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$15,82 miliar. Sebaliknya, impor dari China pada Januari—Juli tahun ini tercatat US$24,90 miliar, turun tipis 0,24% dari periode sama tahun sebelumnya US$24,96 miliar.

Dengan demikian, pada periode Januari—Juli 2019, Indonesia mencatatkan defisit dagang sebesar US$10,12 miliar, naik 10,67% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya sebesar US$9,14 miliar.  

China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia di dunia. Sebaliknya, Indonesia merupakan mitra dagang terbesar China ke-15 di dunia.

Produk ekspor nonmigas utama Indonesia ke China, antara lain batu bara, minyak kelapa sawit, olahan serbuk kayu, dan tembaga. Sedangkan untuk produk impor nonmigas terbesar dari China antara lain komponen telepon, mesin pengolahan data otomatis digital dalam bentuk portabel serta komponen yang digunakan untuk transmisi radio, radar, radio navigasi, dan modem untuk televisi.

Adapun, total nilai perdagangan China dan negara-negara di Asean pada 2018 mencapai US$587,8 miliar. Sementara itu, pada paruh pertama 2019 total perdagangan tercatat US$291,85 miliar, naik 4,2% dari periode sama tahun lalu.

Artinya, Asean adalah mitra dagang China terbesar kedua setelah Negeri Paman Sam, yang saat ini hubungannya sedang panas dingin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, asean

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top