LAPORAN DARI CHINA: Ini 3 Syarat Luhut ke Pengusaha China

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menegaskan bahwa Indonesia tidak akan pernah dikontrol oleh China dengan masifnya investasi Negeri Panda itu di Indonesia, terutama melalui sejumlah persyaratan ketat.
Gajah Kusumo
Gajah Kusumo - Bisnis.com 23 September 2019  |  07:24 WIB
LAPORAN DARI CHINA: Ini 3 Syarat Luhut ke Pengusaha China
Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan - Bisnis/Jaffry Prabu Prakoso

Bisnis.com, NANNING, China —  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menegaskan bahwa Indonesia tidak akan pernah dikontrol oleh China dengan masifnya investasi Negeri Panda itu di Indonesia, terutama melalui sejumlah persyaratan ketat.

“Investasi China di Indonesia itu business to business. Tidak ada yang dirugikan. Namanya investasi itu kan harus untung. Keduanya [Indonesia dan China] jelas harus sama-sama untung,” katanya dalam forum The 16th China-Asean Business and Investment Summit 2019 (CABIS), Sabtu (21/9/2019)

Luhut menegaskan ada tiga persyaratan mutlak yang diminta pemerintah terhadap China. Pertama, Indonesia tidak mau teknologi kelas dua yang masuk ke Indonesia.

“Yang pasti harus ramah lingkungan dan bukan KW. Harus teknologi tinggi,” tegasnya.

Kedua, yaitu pemerintah meminta investasi harus disertai dengan nilai tambah atau added value. Ketiga, adalah menggunakan tenaga kerja Indonesia atau lokal.

"Itu tiga syarat utama. Sebaliknya, kalau ada masalah investasi di Indonesia jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.”

Luhut pun menegaskan hal itu berkali-kali dalam sesi dialog CABIS 2019 yang diadakan di Hotel Grand Metropark, Nanning, China, yang dihadiri sejumlah pengusaha China dan Asean, diantaranya Chairman China Datang Corporation Limited Chen Feihu, Vice President of China Communications Construction Company Wen Gang, Chief Economist China Development Bank Liu Yong, Vice President SGMW Automobile Co. Ltd. Yao Zuoping, dan GM PT Well Harvest Winning Alumina Refinery Zang Jinjun.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia-China periode Januari—Juli 2019 tercatat sebesar US$39,69 miliar, turun 2,68% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya sebesar US$40,79 miliar.

Adapun, ekspor RI ke Negeri Panda sepanjang Januari—Juli 2019 senilai US$14,78 miliar, turun 6,54% dari ekspor periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$15,82 miliar. Sebaliknya, impor dari China pada Januari—Juli tahun ini tercatat US$24,90 miliar, turun tipis 0,24% dari periode sama tahun sebelumnya US$24,96 miliar.

Dengan demikian, pada periode Januari—Juli 2019, Indonesia mencatatkan defisit dagang sebesar US$10,12 miliar, naik 10,67% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya sebesar US$9,14 miliar. 

China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia di dunia. Sebaliknya, Indonesia merupakan mitra dagang terbesar China ke-15 di dunia.

Produk ekspor nonmigas utama Indonesia ke China, antara lain batu bara, minyak kelapa sawit, olahan serbuk kayu, dan tembaga. Sedangkan untuk produk impor nonmigas terbesar dari China antara lain komponen telepon, mesin pengolahan data otomatis digital dalam bentuk portabel serta komponen yang digunakan untuk transmisi radio, radar, radio navigasi, dan modem untuk televisi.

Adapun, total nilai perdagangan China dan negara-negara di Asean pada 2018 mencapai US$587,8 miliar. Sementara itu, pada paruh pertama 2019 total perdagangan tercatat US$291,85 miliar, naik 4,2% dari periode sama tahun lalu.

Artinya, Asean adalah mitra dagang China terbesar kedua setelah Negeri Paman Sam, yang saat ini hubungannya sedang panas dingin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, Luhut Pandjaitan

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top