Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emiten Buy Back, Bagaimana Rencana Right Issue Bank?

Pada penutupan perdagangan Jumat (13/3/2020), (IHSG) berhasil berbalik dari zona merah dan ditutup menguat 11,8 poin ke level 4.907.57. Hanya saja, posisi tersebut masih lebih rendah 22,09 persen dari posisi awal 2020.
ilustri - Pengunjung mengamati layar monitor yang menampilkan perdagangan harga saham di lantai PT Bursa efek Indonesia di Jakarta, Jumat (13/3). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi disuspensi setelah 15 menit perdagangan dimulai. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di 4.650,58 melemah 5,01 persen atau 245,17 poin./Dedi Gunawan
ilustri - Pengunjung mengamati layar monitor yang menampilkan perdagangan harga saham di lantai PT Bursa efek Indonesia di Jakarta, Jumat (13/3). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi disuspensi setelah 15 menit perdagangan dimulai. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di 4.650,58 melemah 5,01 persen atau 245,17 poin./Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA  - Analis memperkirakan emiten perbankan akan kesulitan menentukan harga pelaksana pelepasan saham baru (right issue) untuk menambah modal di tengah kondisi pasar modal yang volatile.

Pada tahun ini, Bisnis sejumlah emiten bank memiliki renacana penyuntikan modal melalui skema right issue. Beberapa bank tersebut antara lain, PT Bank Bukopin Tbk., PT Bank BRI Agroniaga Tbk. (AGRO), PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk. (BEKS), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten Tbk. (BJBR), dan PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk. (MCOR).

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan harga saham yang saat ini masih dipenuhi sentimen negatif akan membuat investor kembali berhitung.

"Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG sudah mulai membaik. Namun, hal ini tentu akan mempengaruhi perundiingan penetapan harga bagi bank yang mempunyai rencana penerbitan saham. Emiten-emiten lain bahkan berencana untuk buy back," ujarnya, Jumat (13/3/2020).

Hans menyebutkan emiten yang memiliki rencana untuk penerbitan saham tentu perlu meninjau kembali rencana aksi korporasi tesebut. Setidaknya hingga sentimen pasar kembali normal. Hal tersebut ditujukan agar emiten perbankan tidak mendapat harga murah yang justru menyebabkan penyuntikan modal tidak memiliki dampak pada ekspansi fungsi intermediasi pasca aksi tersebut.

"Kita tidak tahu kapan pasar akan kembali normal, tetapi bank perlu menunggu momentum itu," katanya.

Sementara itu, pengamat pasar modal yang juga Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso menyebutkan investor strategis biasanya tidak terlalu tergantung pada fluktuasi harga saham di pasar sekunder.

"Meski secara emosional harga penawaran juga dipengaruhi jangka pendek, tapi bagi investor institusi akan tetap melihat prospek jangka panjang panjang," katanya.

Seperti diketahui, pada penutupan perdagangan Jumat (13/3/2020), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup positif. IHSG berhasil berbalik dari zona merah dan ditutup menguat 11,8 poin ke level 4.907.57. Hanya saja, posisi tersebut masih lebih rendah 22,09 persen dari posisi awal 2020.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : M. Richard
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper