Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pegawai Bank Indonesia (BI) Kendari menunjukan uang kertas Tahun Emisi (TE) 1998. - Antara / Jojon.
Premium

Historia Bisnis: Ragu BPK atas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia

05 Juni 2020 | 18:37 WIB
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menilai kucuran Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar 187,5 triliun sebagai angka yang diragukan kewajarannya sehingga menolak berpendapat (disclaimer). Bank Indonesia kemudian mencantumkan nilai bantuan likuiditas ini sebagai kerugian operasional.

Bisnis.com, JAKARTA - Dukungan likuiditas dari Bank Indonesia untuk menyelamatkan sistem perbankan nasional membawa masalah berkepanjangan. Buntutnya Bank Indonesia bahkan mencatatkan bantuan likuiditas itu sebagai kerugian operasional dalam laporan pendahuluan 17 Mei 1999. 

Pengucuran BLBI dalam rangka restrukturisasi perbankankan itu jumlahnya cukup fantastis, yakni mencapai Rp164 triliun. Seiring berjalannya waktu, jumlah itu telah menjadi Rp187,5 triliun dengan adanya beban bunga.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) kemudian melakukan pemeriksaan menyeluruh atas keputusan yang diambil dalam krisis keuangan. Auditor menilai tindakan penyelamatan itu tidak mematuhi sistem pengendaian internal dan menjatuhkan opini disclaimer. Opini itu gigih dipertahanan terutama menyangkut Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Audit BLBI ini menjadi laporan Bisnis Indonesia edisi 5 Juni 2000. Tajuk yang diturunkan kala itu adalah 'Opini BPK terhadap BLBI tetap."

BPK sendiri sebelumnya telah memberikan opini disclaimer terhadap penyaluran BLBI yang dilaksanakan bank sentral. Sikap itu kini terus berlanjut menyusul belum ditemukannya solusi yang jelas mengenai pertanggungjawaban pengucuran BLBI tersebut oleh BI kepada perbankan nasional.

Alhasil, Ketua BPK Satrio Budihardjo Jordana --yang akrab dipanggil Billy-- menyatakan dirinya tidak bisa memberi opini wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) terhadap neraca awal Bank Indonesia per 17 Mei 1999. Dengan kata lain opini disclaimer masih menjadi label yang belum kunjung berubah.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top