Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Petrus Mait, seorang warga masyarakat di Tomohon, Sulawesi Utara, sedang menikmati minuman keras tradisional cap tikus yang telah diracik dengan beberapa rempah tambahan untuk memperkuat cita rasanya, Sabtu (2/1/2021). - Bisnis/Emanuel B. Caesario.
Premium

Cap Tikus, Antara Potensi Ekonomi, Tantangan Regulasi, dan Akses Permodalan

03 Februari 2021 | 14:05 WIB
Minuman beralkohol cap tikus sudah menjadi warisan tradisi di Sulawesi Utara. Selain semata-mata sebagai warisan budaya, minuman ini juga memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Namun, pengrajin minuman ini sulit untuk dapat merealisasikan potensi itu karena terbatasnya akses modal dari bank.

Bisnis, JAKARTA — Cap tikus, minuman beralkohol tradisional dari daerah Minahasa, Sulawesi Utara, sudah lama menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat setempat. Namun, hampir tidak ada pengrajin cap tikus yang mampu meningkatkan taraf hidupnya dengan semata-mata mengandalkan minuman ini.

Potensi ekonomi yang sangat tinggi dari minuman ini bukannya belum pernah terbukti. Namun, sulit bagi pengrajin minuman ini, yang umumnya berasal dari kalangan masyarakat sederhana, untuk dapat mewujudkan potensi itu.

Ada sangat banyak hambatan di seputar industri ini, mulai dari tantangan sosial-kemasyarakatan, regulasi dan hukum, hingga akses pendanaan untuk modal usaha.

Tingginya potensi ekonomi cap tikus sejatinya sudah berhasil dibuktikan oleh Pemerintah Daerah Minasa Selatan, yang sejak 2018 lalu memperjuangkan legalitas minuman ini di sana.

Hasilnya, pada awal 2019 cap tikus dengan merek Cap Tikus 1978 dengan kadar alkohol 43% resmi beredar dengan izin lengkap dan diproduksi dengan skala industri yang besar.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top