Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Permintaan Kredit Kendaraan Naik Jelang Lebaran, Leasing Waspadai Potensi NPF

Terlebih, perusahaan pembiayaan harus tetap waspada terhadap calon debitur yang tak serius, menilik adanya fenomena mengambil kredit hanya untuk pulang kampung saja atau hanya untuk 'bergaya' di momen Lebaran, kemudian berpotensi tak lancar bayar cicilan.
Multifinance/Istimewa
Multifinance/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Para pelaku industri pembiayaan (multifinance) tetap waspada kendati momentum permintaan kredit kendaraan era new normal, terutama jelang momen Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. 

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menjelaskan kondisi ini menjadi kesempatan para pemain kredit otomotif memperbaiki nilai portofolio aset, di mana merupakan angin segar setelah terdampak pandemi pada periode lalu.

Namun demikian, Suwandi berharap para pelaku tetap berhati-hati, karena belum tentu daya beli masyarakat sudah pulih betul, terutama terkait kemampuan jangka panjang dalam mencicil ke depannya.

"Daya beli calon debitur ini masih harus jadi sorotan. Bahkan yang berkemampuan membayar uang muka cukup tinggi, harus dipastikan lagi keseriusan mereka," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (7/4/2021).

Terlebih, perusahaan pembiayaan harus tetap waspada terhadap calon debitur yang tak serius, menilik adanya fenomena mengambil kredit hanya untuk pulang kampung saja atau hanya untuk 'bergaya' di momen Lebaran, kemudian berpotensi tak lancar bayar cicilan.

Pasalnya, kini kondisi non-performing financing (NPF) industri pun berangsur-angsur telah membaik, yakni 3,93 persen berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2021, dan diharapkan pulih ke depannya hingga kisaran sebelum pandemi.

Sekadar informasi, rekor NPF industri pembiayaan selama pandemi sempat menyentuh angka 5,6 persen, tepatnya per Juli 2020.

"Ini bukan fenomena baru, sejak dulu juga sudah ada. Dengan infrastruktur data kita yang semakin baik lewat terkoneksi di asset registry dan Sistem Layanan Informasi Keuangan [SLIK], juga hati-hati lihat riwayat calon debitur, harusnya kasus seperti ini bisa dicegah," tutupnya.

Jodjana Jody, pengamat otomotif sekaligus praktisi industri pembiayaan yang sempat menjadi bos Auto2000 (2010) dan Astra Credit Companies (2015) pun menjelaskan hal serupa.

"Soal konsumen nakal yang manfaatin lebaran bisa aja terjadi. Namun, sekarang parameter penilaian kredit sudah makin lengkap ya, ada SLIK, Pefindo credit rating, asset registry, dan lain-lain. Bad customers sudah akan makin bisa dieliminasi," jelasnya.

Namun demikian, tentunya jangan sampai multifinance terlalu bernafsu untuk aktif booking, walaupun demi memperbaiki asset financing sekalipun.

"Yang pasti, tentunya survey internal tiap credit company mesti baik dan relevan sesuai kondisi terkini, untuk cek apakah aplikasi konsumen sesuai fakta nyatanya," tambah Jody.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Aziz Rahardyan
Editor : Ropesta Sitorus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper