Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pembiayaan Mulai Pulih, BFI Finance Mulai Genjot Sumber Pendanaan

Sekadar informasi, pandemi Covid-19 yang mempengaruhi kebutuhan pembiayaan sepanjang 2020 telah membuat seluruh sumber pendanaan BFIN berkurang, tepatnya dari Rp11,48 triliun pada 2019 menjadi Rp7,77 triliun pada 2020.
Karyawan melayani nasabah di kantor PT BFI Finance Indonesia, Serpong, Tangerang Selatan, Senin(6/3)./JIBI-Endang Muchtar
Karyawan melayani nasabah di kantor PT BFI Finance Indonesia, Serpong, Tangerang Selatan, Senin(6/3)./JIBI-Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) mulai menggenjot jumlah pendanaan dari berbagai sumber seiring dengan proyeksi pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang positif pada 2021.

Finance Director BFI Finance Sudjono menjelaskan penyaluran pembiayaan baru (booking) perusahaan pada kuartal IV/2020 mencapai Rp2,93 triliun. Padahal, sebagai perbandingan, nilai booking emiten berkode BFIN ini hanya berkisar Rp7,6 triliun sepanjang 2020, turun 52,2 persen tahun 2019.

BFIN sempat menghentikan pembiayaan baru akibat penyebaran pandemi Covid-19, tepatnya pada kuartal II/2020, yang membuat nilai pembiayaan baru pada periode ini anjlok menjadi hanya Rp57 miliar.

"Kami melakukan penerbitan surat utang terbaru untuk memperkuat pembiayaan baru BFIN, karena pertumbuhan pembiayaan per kuartal menunjukkan trend yang positif, sehingga perseroan harus menyiapkan pendanaan yang memadai dan terdiversifikasi," jelasnya kepada Bisnis, Senin (26/4/2021).

Terbaru, Obligasi Berkelanjutan V BFI Finance Indonesia senilai Rp600 miliar tengah memasuki masa penawaran, mulai 26 April 2021 hingga 5 Mei 2021, dengan perkiraan tanggal efektif 18 Mei 2021, dan dilanjutkan dengan masa penawaran umum pada 20-21 Mei 2021.

Sebagai informasi, pandemi Covid-19 yang mempengaruhi kebutuhan pembiayaan sepanjang 2020 telah membuat seluruh sumber pendanaan BFIN berkurang, tepatnya dari Rp11,48 triliun pada 2019 menjadi Rp7,77 triliun pada 2020.

Perinciannya, pinjaman bank mata uang asing yang turun 40,8 persen (year-on-year/yoy) menjadi Rp2,65 triliun, pinjaman bank mata uang rupiah turun 34 persen (yoy) menjadi Rp2,14 triliun, dan surat berharga yang diterbitkan turun 20,7 persen (yoy) menjadi Rp2,97 triliun.

"Penurunan ini terjadi karena sedikitnya kebutuhan pendanaan baru di tengah lesunya laju penyaluran pembiayaan baru dan tingginya posisi kas, sebagaimana disampaikan dalam bagian Kas dan Setara Kas, sehingga setiap pinjaman yang jatuh tempo dilunasi dan tidak diperpanjang," ujar BFIN dalam penjelasannya terhadap laporan keuangan periode 2020.

Oleh sebab itu, Sudjono menjelaskan bahwa diversifikasi pendanaan merupakan kunci memperbaiki portofolio dan mendukung target perusahaan pada periode 2021 untuk memulihkan kinerja pembiayaan seperti sebelum pandemi.

Adapun, kinerja pada kuartal I/2021 membuat total piutang pembiayaan yang dikelola BFIN terkini mampu mencapai Rp13,6 triliun.

Ditopang pembiayaan mobil bekas 72,1 persen, disusul alat berat dan mesin sebesar 13,9 persen, pembiayaan motor bekas 9,1 persen, pembiayaan mobil baru sebesar 1,9 persen, serta pembiayaan beragun properti dan produk lini pembiayaan lainnya yang menyumbang 3 persen dari portofolio.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Aziz Rahardyan
Editor : Ropesta Sitorus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper