Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jelang Lebaran, Satgas Waspada Investasi Bekukan 86 Fintech Ilegal

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing menjelaskan bahwa pihaknya terus membekukan entitas-entitas fintech dan investasi ilegal untuk mencegah kerugian masyarakat. Entitas itu terus bermunculan dan dikhawatirkan semakin marak menjelang lebaran.
Ilustrasi teknologi finansial/Flickr
Ilustrasi teknologi finansial/Flickr

Bisnis.com, JAKARTA — Satgas Waspada Investasi atau SWI menyatakan masyarakat harus mewaspadai penawaran pinjaman dan investasi ilegal menjelang hari raya lebaran. Hingga April 2021, SWI pun kembali menemukan 86 platform fintech peer to peer atau P2P lending yang ilegal dan 26 kegiatan usaha tanpa izin.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing menjelaskan bahwa pihaknya terus membekukan entitas-entitas fintech dan investasi ilegal untuk mencegah kerugian masyarakat. Entitas itu terus bermunculan dan dikhawatirkan semakin marak menjelang lebaran.

Sejak 2018 hingga April 2021, Satgas sudah memblokir 3.193 fintech lending ilegal. Lalu, terdapat 26 entitas investasi ilegal yang diblokir pada April 2021, di antaranya sebagai berikut:
-11 Money Game;
-3 Investasi Cryptocurrency tanpa izin;
-1 Penyelenggara sistem pembayaran tanpa izin
-2 Penyelenggara pembiayaan tanpa izin; dan
-9 kegiatan lainnya.

Fintech lending dan penawaran investasi ilegal ini masih tetap muncul di masyarakat. Menjelang lebaran dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat, kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan agar tidak menjadi korban,” ujar Tongam pada Rabu (5/4/2021) melalui keterangan resmi.

Menurut Tongam, pihaknya selalu berusaha mengingatkan masyarakat bahwa sebelum memanfaatkan fintech lending dan mencoba berinvestasi harus memahami legalitas atau izin dari perusahaan terkait. Masyarakat pun perlu melihat logika dari penawaran keuntungan yang ditawarkan sesuai dengan nilai yang wajar.

“Terlebih lagi menjelang lebaran ini masyarakat mendapatkan tunjangan hari raya [THR] sehingga diharapkan tidak menempatkan dana THR tersebut pada penawaran-penawaran investasi ilegal,” ujarnya.

SWI juga menyampaikan bahwa terdapat satu entitas yang ditangani Satgas telah mendapatkan izin usaha yaitu Snack Video, sehingga dilakukan normalisasi atas aplikasi yang telah diblokir.

SWI pun menyatakan bahwa saat ini terdapat beberapa entitas yang mengaku bahwa perizinan atau legalitasnya “clear and clean” dari SWI OJK. Padahal, Satgas tidak memiliki kaitan dengan pengurusan perizinan atau legalitas kegiatan usaha, sehingga entitas yang menyatakan hal demikian tidak perlu dipercaya.

Satgas meminta masyarakat untuk menanyakan langsung kepada Kontak OJK 157 atau WA 081157157157 bila ingin memanfaatkan fintech lending atau mengikuti investasi, ataupun jika ingin melaporkan adanya kegiatan fintech lending dan investasi yang berpotensi merugikan masyarakat.

Menurut Tongam, pihak Satgas Waspada Investasi yang terdiri dari 13 kementerian dan lembaga akan terus melakukan patroli siber rutin yang frekuensinya akan terus ditingkatkan sejalan dengan masih banyaknya temuan fintech lending dan penawaran investasi ilegal melalui berbagai saluran teknologi komunikasi di masyarakat.

Informasi mengenai daftar perusahaan yang tidak memiliki izin dari otoritas berwenang dapat diakses melalui Investor Alert Portal pada www.sikapiuangmu.ojk.go.id. Jika menemukan tawaran investasi yang mencurigakan, masyarakat dapat mengkonsultasikan atau melaporkan kepada Layanan Konsumen OJK 157 (WA 081157157157), email [email protected] atau [email protected]

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper