Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

The Fed Tahan Bunga Acuan, BI 7-Day RR Diramal Tetap 3,5 Persen hingga Akhir 2021

Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC), the Fed memutuskan menahan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate di kisaran 0-0,25 persen.
Karyawan melintas didekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (30/12/2019). Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan melintas didekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (30/12/2019). Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5 persen di sisa tahun 2021.

Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC), the Fed memutuskan menahan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate di kisaran 0-0,25 persen. The Fed juga mempertahankan alokasi pembelian obligasi sebesar US$120 miliar per bulan hingga ada perkembangan lapangan kerja dan inflasi yang substansial.

The Fed memberi sinyal, dalam pertemuan FOMC mendatang, komite akan kembali menilai kemajuan ekonomi, dan waktu yang tepat untuk mulai mengurangi pembelian aset akan tergantung pada data yang masuk.

Oleh karena itu, Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memandang BI masih memiliki ruang untuk tetap melanjutkan kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif sepanjang 2021.

Dari sisi domestik, inflasi dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang diperkirakan rendah akan mendukung kebijakan BI yang longgar. Kedua indikator tersebut diperkirakan akan meningkat namun tetap terjaga sejalan dengan pemulihan ekonomi.

“Karenanya, kami memperkirakan BI tetap mempertahankan BI7DRR di level 3,5 persen hingga akhir 2021 bersamaan dengan melakukan kebijakan jalur kuantitas [quantitative easing] dan makroprudensial untuk mendukung pemulihan ekonomi,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (29/7/2021).

Dia menjelaskan, alasan lainnya bagi BI untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan adalah untuk menarik minat investor dalam mencegah keluarnya aliran modal asing atau capital outflow, serta mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Hal ini disebabkan meningkatnya meningkatnya kekhawatiran di pasar keuangan global karena inflasi yang meningkat kuat di Amerika Serikat, sehingga menimbulkan risiko normalisasi moneter yang lebih cepat dari yang diantisipasi oleh the Fed.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper