Bisnis.com, JAKARTA - Asia Tenggara atau Asean makin menggoda buat investor global yang bermain di ranah private equity and venture capital (PEVC), seiring mulai matangnya iklim pengembangan perusahaan rintisan (startup) dan penetrasi teknologi.
Hal ini terungkap dalam laporan Preqin, platform alternatif data aset, tools and insights, berkaitan transaksi PEVC bertajuk 'Alternative Assets in Asia-Pacific- Southeast Asia', yang dikutip Bisnis, Rabu (18/8/2021).
Preqin menilai periode pandemi tak menghentikan wilayah Asean mencatatkan beberapa rekor baru pada 2021. Aset dalam portofolio (AUM) industri PEVC yang memfokuskan transaksinya ke Asean mencapai US$37 miliar pada December 2020, melesat jauh dari lima tahun lalu di US$17 miliar.
Bahkan, capaian pendanaan yang digelontorkan pada semester I/2021 ini sudah menyamai capaian sepanjang 2010. Serupa, AUM modal ventura 'lokal' atau asli asal Asean pun ikut melejit menjadi US$16 miliar, sekitar 2.6 kali dari capaian 2015.
Hal ini seiring investor yang makin 'tergoda' karena median net internal rate of return (IRR) yang fokus ke Asean pada 2009 sampai 2018 mencapai 22 persen, jauh dari yang hanya fokus ke seluruh Asia dengan mentok 14 persen saja, walaupun tentunya risikonya yang terbilang lebih tinggi.
Indonesia pun menjadi sorotan, karena menjadi tempat lahirnya 4 dari 5 unicorn terbesar yang beroperasi di kawasan ini. Selain itu, porsi jumlah transaksi dan nilai transaksinya dibandingkan dengan negara Asean lain pun konsisten menjadi no-2 terbesar selama 5 tahun terakhir, di bawah Singapura.
Baca Juga
"PEVC masuk karena kebutuhan modal yang besar di Asia Tenggara, di mana peran pendanaan mereka juga signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ke depan, kami proyeksi jenis kesepakatan modal ventura semakin beragam, sementara kualitas perusahaan yang tumbuh dari kawasan ini menjadi jauh lebih menarik bagi investor," ujar Ee Fai Kam, Head of Research & Data Operations Preqin.
Menurut Preqin, Asean telah menjelma menjadi Tech-Hub besar dunia, bahkan berpotensi menjadi yang terbesar ke-3 di samping AS dan China. Didorong melonjaknya kebutuhan akan layanan berbasis digital, terutama berkaitam e-commerce dan pembayaran (digital payments).
Terakhir, proyeksi makin moncernya transaksi pendanaan PEVC ke wilayah ini dalam beberapa waktu mendatang juga merupakan buah dari makin beragamnya exit-strategy yang tersedia dari investasi ke startup. Mulai dari tradisional IPO atau merger dengan special purpose acquisition companies (SPAC). Pipeline exit-strategy dari 'mega-listing' para startup disebut akan menjadi katalis investor global makin gencar melirik Asean sebagai wilayah yang semakin matang.
Amit Anand, Founding Partner Jungle Ventures, dalam laporan ini pun percaya bahwa tren ini mampu membuat valuasi perusahaan teknologi di kawasan ini mampu mencapai US$300 miliar pada Desember 2022 dan tembus US$1 triliun pada akhir 2025.
Anand menggambarkan bahwa angka ini sangat realistis mengingat beberapa perusahaan yang telah menampakkan aksi korporasinya, valuasinya telah berada tak jauh dari proyeksi. Antara lain grup SEA yang memiliki Shopee & Garena, Zomato, Bukalapak, Grab, merger Gojek dan Tokopedia yang berencana dual-listing, dan Kredivo.
Hal ini belum ditambah dengan hasil dari aksi korporasi besar di antara mereka, seperti akuisisi Flipkart oleh Walmart, Lazada oleh Alibaba, Uber SE Asia oleh Grab, serta potensi listing dari PayTM, Nykaa, PolicyBazaar, CarTrade, dan Mobikwik.
"Sekarang ada 50 unicorn di Asean, katakanlah hanya 70 persen dari mereka yang IPO, valuasi total masih dengan mudah mencapai US$600 miliar pada 2-3 tahun mendatang. Adapun, sekitar 100 perusahaan berstatus centaur yang apabila mayoritas bisa IPO sebelum 2025, sudah membuat total nilai valuasi mencapai US$1 triliun. Ini akan membuat Asean jadi Tech-Hub dunia selanjutnya," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News