Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tren Kualitas Pinjaman di Fintech P2P Lending, Berapa yang Macet?

Pinjaman lancar mendominasi yakni mencapai Rp22,26 triliun kepada 20,1 juta entitas borrower. Sisanya, lebih dari satu juta borrower tergolong dalam tidak lancar dan macet.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 07 September 2021  |  14:31 WIB
Tren Kualitas Pinjaman di Fintech P2P Lending, Berapa yang Macet?
Ilustrasi solusi teknologi finansial - flickr
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Industri teknologi finansial peer-to-peer (fintech P2P) lending tampak mampu mempertahankan tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman 90 hari (TKB90) di kisaran 98,18 persen per Juli 2021.

Sekadar informasi, indikator TKB90 sempat anjlok dalam ketika masa pandemi, tepatnya mencapai 91,12 persen per Agustus 2020, atau dengan kata lain peminjam (borrower) tidak lancar bayar angsuran (TWP90) mencapai 8,8 persen.

Terkini, statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap pada Juli 2021 penyaluran pinjaman industri yang memiliki 121 pemain ini mencapai Rp15,66 triliun, sementara outstanding pinjaman tersisa mencapai Rp24,21 triliun. Kedua capaian ini mempertahankan tren kenaikan tiap bulan secara berturut-turut sejak awal tahun.

Pihak-pihak yang masih memiliki utang penyumbang outstanding ini mencapai 21,7 juta entitas, terdiri dari borrower perorangan 21 juta orang senilai Rp20,42 triliun dan borrower badan usaha 2.342 entitas senilai Rp3,79 triliun.

OJK membagi kualitas outstanding pinjaman tersisa ini berdasarkan tiga jenis, yaitu lancar, tidak lancar atau terlambat (30-90 hari), dan macet yang artinya tidak membayar utangnya lebih dari 90 hari dari tempo.

Pinjaman lancar tentunya mendominasi, mencapai Rp22,26 triliun kepada 20,1 juta entitas borrower. Sisanya, lebih dari satu juta borrower tergolong dalam tidak lancar dan macet.

Borrower yang tidak lancar pada awal paruh kedua era new normal ini mencapai 1,23 juta orang dengan nilai outstanding senilai Rp1,3 triliun dan 671 entitas badan usaha senilai Rp111 miliar. Dibandingkan awal tahun, jumlah entitas borrower yang tidak lancar tampak telah menurun.

Adapun, jumlah borrower yang pinjamannya macet mencapai 316.072 orang dengan nilai outstanding senilai Rp391,5 miliar dan 65 entitas badan usaha senilai Rp48,2 miliar.

Dibanding awal tahun, borrower badan usaha yang macet turun drastis dari sebelumnya 494 entitas, sementara borrower perorangan yang macet makin banyak karena pada Januari 2021 masih 188 ribu orang saja.

Sekadar informasi, lembaga pengelola informasi perkreditan sekaligus jasa credit scoring dan analisa kredit PT PEFINDO Biro Kredit (IdScore) sebelumnya mengingatkan lembaga jasa keuangan, termasuk para fintech agar senantiasa berhati-hati, karena masih tingginya persentase debitur berisiko tinggi di Indonesia.

Yohanes Arts Abimanyu, Direktur Utama Pefindo Biro Kredit menjelaskan bahwa memang industri fintech P2P lending memiliki risk appetite yang memungkinkan pinjaman dari debitur berisiko tinggi. Oleh sebab itu, harus memiliki kehati-hatian lebih tinggi.

"Fintech P2P lending memiliki target market tersendiri dengan pengelolaan risiko yang tentunya sudah diperhitungkan dengan cermat. Pada intinya, lembaga keuangan termasuk Fintech P2P harus menjaga portofolio kreditnya agar berada dalam kategori sehat, terlebih dalam masa pandemi saat ini," ujarnya kepada Bisnis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

OJK pinjaman P2P lending
Editor : Azizah Nur Alfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top