Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Multifinance 'Mini' Mulai Kecipratan Suntikan Dana Bank 

Sebagai pengingat, pandemi Covid-19 sempat membuat pemain multifinance kesulitan mendapatkan suntikan modal dari pinjaman bank pada medio 2020-2021, akibat kecenderungan bank lebih selektif dalam menyalurkan likuiditasnya.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 26 Mei 2022  |  15:39 WIB
Multifinance 'Mini' Mulai Kecipratan Suntikan Dana Bank 
Multifinance - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Suntikan dana dari perbankan untuk industri pembiayaan (multifinance/leasing) semakin merata, alias mulai masuk ke pemain-pemain beraset kecil dan independen. 

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengungkap bahwa tren ini mulai terlihat sejak awal tahun, seiring dengan data pertumbuhan nominal pendanaan yang diterima para pemain dari bank dalam negeri. 

"Secara umum, pembiayaan industri multifinance semakin bagus, baik dari jumlahnya maupun kualitasnya. Jadi wajar kalau tren pendanaan dari bank dalam negeri meningkat. Harapannya, tahun ini pendanaan sudah lebih merata, semua pemain lebih mudah dapat pinjaman. Tapi tentu kembali ke penilaian bank terhadap satu per satu pemain," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (26/5/2022). 

Berdasarkan data industri multifinance dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per kuartal I/2022, total jumlah pendanaan yang diterima industri senilai Rp210,39 triliun masih tercatat turun 4 persen (year-on-year/yoy) secara tahunan. Namun, khusus pendanaan dari bank dalam negeri dengan porsi Rp137,79 triliun, nilainya naik 9,6 persen (yoy) dari tahun lalu. 

Sebagai informasi, pandemi Covid-19 sempat membuat pemain multifinance kesulitan mendapatkan suntikan modal dari pinjaman bank pada medio 2020-2021, akibat kecenderungan perbankan lebih selektif dalam menyalurkan likuiditasnya. 

Tren ini terutama dirasakan multifinance yang masih memiliki aset mini dan independen, alias bukan merupakan anak usaha bank itu sendiri atau menjadi bagian entitas dealer atau agen pemegang merek (APM). 

Suwandi melihat pinjaman bank dalam negeri yang meningkat secara bertahap, mencerminkan kepercayaan bank terhadap prospek industri multifinance di tahun ini. Terlebih, pandemi telah secara otomatis membawa seleksi alam buat para pemain. 

Sebagai gambaran, jumlah perusahaan multifinance pada awal pandemi mencapai 182 pemain, terbagi 32 pemain terafiliasi APM, 34 pemain terafiliasi perbankan, dan 116 pemain independen. Terkini, jumlah perusahaan yang bertahan tinggal 158 pemain, terbagi 27 pemain terafiliasi APM, 31 pemain terafiliasi perbankan, dan 100 pemain independen. 

"Ada pemain yang menyerah, ada yang terpaksa mundur karena tidak bisa mematuhi ketentuan regulasi, ada juga yang merger supaya lebih kuat. Artinya, kualitas dari pemain yang tersisa semakin bagus, dan dijamin aman karena semua sudah bergabung ke SLIK [Sistem Layanan Informasi Keuangan OJK]. Selain itu, kepercayaan bank juga didorong tingkat bunga kompetitif, serta prospek pembiayaan industri yang terus membaik," tutupnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance OJK leasing
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top