Dampak Kebijakan Suku Bunga Diyakini Minim

Upaya bank sentral menaikkan suku bunga secara agresif pada Rapat Dewan Gubernur pertengahan November ini dipercaya ampuh menekan defisit transaksi berjalan ke kisaran yang lebih rendah dari 3%. 
Hadijah Alaydrus | 20 November 2018 19:47 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya bank sentral menaikkan suku bunga secara agresif pada Rapat Dewan Gubernur pertengahan November ini dipercaya ampuh menekan defisit transaksi berjalan ke kisaran yang lebih rendah dari 3%. 

Data Bank Indonesia yang diterima dari sumber Bisnis menunjukkan defisit transaksi berjalan dengan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 15 November 2018 lalu menjadi 6% dapat mengerem pelebaran defisit ke kisaran 2,8% terhadap PDB atau sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yakni 2,9%.

Namun, agresifitas bank sentral dalam menaikkan suku bunga dan upaya pemerintah untuk menurunkan defisit transaksi berjalan tidak akan berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang diperkirakan akan tetap tumbuh di kisaran 5,2% tahun ini dan tahun depan. 

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual menuturkan selama sektor konsumsi dan inflasi tetap stabil, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan turun drastis sebagai dampak dari penurunan defisit transaksi berjalan. 

"Apalagi kalau FDI dan ekspor masih tumbuh," tegas David, Minggu (20/11/2018).

Sejauh ini, pertumbuhan ekonomi di dalam negeri memiliki kualitas yang baik. Bahkan, daya serapnya terhadap tenaga kerja jauh lebih tinggi dibandingkan ketika Indonesia tumbuh di kisaran 5,6% - 5,7%. 

Dia meyakini kenaikan suku bunga yang diputuskan Bank Indonesia pada RDG lalu akan memberikan kontribusi pada penurunan defisit transaksi berjalan pada tahun depan ke arah 2-2,5% terhadap PDB dan ini juga upaya untuk menarik pembiayaan dari portofolio yang sangat dibutuhkan saat ini. 

Direktur Riset CORE Indonesia Piter R. Abdullah membenarkan bahwa kenaikan suku bunga dapat berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi. Namun, dia melihat kenaikan suku bunga tidak akan berpengaruh signifikan dalam menahan laju pertumbuhan dan investasi, karena karakteristik ekonomi Indonesia yang bertumpu pada barang-barang komoditas. 

Di sisi lain, Piter melihat kenaikan suku bunga acuan tidak bisa menekan defisit transaksi berjalan. 

"Kenaikan suku bunga acuan akan menyebabkan melebarnya interest rate differential sekaligus membuat surat-surat berharga kita menjadi terlihat murah dan menguntungkan," ujar Piter. 

Dengan demikian, aliran modal asing akan masuk. Ini ditunjukkan aliran modal masuk di pasar SBN sejalan dengan terjaganya yield spread SBN. Harapan BI dengan masuknya modal asing, neraca modal akan surplus besar dan mampu menutup defisit transaksi berjalan melebar hingga 3 % terhadap PDB.

Kebijakan suku bunga tinggi yang diambil BI seperti dijelaskan diatas memang akan menarik aliran modal asing. Namun, Piter mengungkapkan risikonya juga besar. Pertama, aliran modal yang masuk dalam bentuk portfolio memiliki risiko pembalikan mendadak atau sudden reversal yang jika ini terjadi akan menyebabkan pelemahan rupiah. 

Kedua, besarnya modal asing yang masuk akan menyebabkan meningkatnya pembayaran dividen dan atau bunga kupon kepada asing sehingga memperbesar defisit neraca pendapatan primer. Dengan demikian, defisit transaksi berjalan justru akan melebar.

Tag : bank indonesia, Suku Bunga
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top