Neraca Dagang RI Akhirnya Surplus, Apa Kata Gita Wirjawan dan Chatib Basri?

Bisnis.com, JAKARTA—Setelah 4 bulan berturut-turut mencatatkan defisit dagang, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus mampu surplus sebesar US$132,4 juta akibat anjloknya nilai impor.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 02 Oktober 2013  |  07:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Setelah 4 bulan berturut-turut mencatatkan defisit dagang, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus mampu surplus sebesar US$132,4 juta akibat anjloknya nilai impor.

Badan Pusat Statistik mengumumkan surplus perdagangan pada Agustus 2013 terjadi karena total nilai ekspor mencapai US$13,16 miliar, sementara impor US$13,03 miliar.

Kepala BPS Suryamin menjelaskan selama Agustus 2013 total ekspor Indonesia merosot 12,77% dari Juli yang dipicu oleh penurunan ekspor nonmigas. “Ekspor nonmigas merosot 18,88% menjadi US$10,38 miliar,” ujarnya Selasa (1/10/2013).

Sementara itu, nilai impor pada Agustus turun 25,2% dari Juli, karena turunnya impor minyak mentah se besar 15,93% menjadi US$7,16 miliar.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengakui surplus neraca perdagangan terbentuk bukan karena peningkatan nilai ekspor. “Ekspor turun impor juga turun, tapi penurunan impornya lebih banyak,” katanya.

Dalam waktu dekat Kementerian Perdagangan akan menyeleksi, bukan mencegah tapi meminimalisasi importasi produk untuk digantikan dengan produk dalam negeri. “Secepatnya kita akan coba seleksi.”

Menteri Keuangan Chatib Basri mengklaim penurunan impor hasil minyak menunjukkan keberhasilan paket kebijakan pemerintah yang diumumkan Agustus lalu. “Tiga bulan yang lalu saya sudah bilang [September impor migas akan turun], tapi banyak yang tidak percaya.”

Suryamin memperkirakan nilai ekspor Indonesia akan meningkat pada akhir tahun seiring dengan pergerakan naik harga komoditas ekspor. Tren kenaikan harga komoditas ekspor tercermin dari pergerakan indeks harga perdagangan besar (IHPB/indeks grosir).

Inflasi tahun kalender harga grosir komoditas ekspor nonmigas Januari—September 2013 tercatat sebesar 8,82%. (Demis Rizky Gosta/Ashari Purwo/Giras Pasopati/Ardhanareswari)

Berita lebih lengkap baca: Bisnis Indonesia edisi Rabu, 2 September 2013

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
defisit, Neraca Perdagangan, chatib basri

Editor :

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top