Inflasi November 0,12%, Naik 0,03% Akibat Tarif Listrik dan Harga Rokok

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju inflasi November tercatat 0,12% akibat kenaikan tarif listrik dan harga rokok. Angka inflasi ini naik dibandingkan dengan Oktober 0,09%.
Sri Mas Sari | 02 Desember 2013 11:49 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju inflasi November tercatat 0,12% akibat kenaikan tarif listrik dan harga rokok.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menilai secara umum pergerakan harga kebutuhan pokok dapat dikendalikan, seperti kelompok bahan makanan dan sandang yang tercatat deflasi.

“Harga bahan makanan seperti beras, cabai, sudah dapat dikendalikan. Adapun pada kelompok sandang, terjadi penurunan harga emas,” jelasnya, Senin (2/12/2013).

Dari 66 kota indeks harga konsumen (IHK) yang disurvei oleh BPS, inflasi terjadi 38 kota. Inflasi tertinggi terjadi di Maumere sebesar 1,54%, sedangkan terendah terjadi di Sibolga dan Mataram 0,03%.

Adapun deflasi terjadi di 28 kota. Deflasi tertinggi terjadi di Sorong 1,29% karena penurunan angkutan udara untuk mendistribusikan bahan pokok relatif membaik.

Berdasarkan komponen, terjadi inflasi inti 0,2%,  inflasi komponen harga diatur pemerintah 0,63%, sedangkan barang bergejolak terjadi deflasi 0,57%.

Menurut kelompok pengeluaran, terjadi deflasi pada dua kelompok, yakni bahan makanan 0,47% dan sandang 0,03%.

Adapun kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau  inflasi 0,27%; kelompok perumahan,air, lisrik, gas dan bahan bakar 0,68%; kelompok kesehatan 0,34%; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,11%; dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,02%.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top