Konsumsi Masyarakat di Kuartal Terakhir Masih Lemah

Direktur Eksekutif The Nielsen Indonesia Yongki Surya Susilo menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal pamungkas tahun ini berpotensi kurang mencapai 5% akibat konsumen yang masih wait and see untuk membelanjakan dananya.
Veronika Yasinta | 20 Desember 2016 20:23 WIB

Bisnis.com, JAKARTA---Direktur Eksekutif The Nielsen Indonesia Yongki Surya Susilo menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal pamungkas tahun ini berpotensi kurang mencapai 5% akibat konsumen yang masih wait and see untuk membelanjakan dananya.

Dia mengatakan pencapaian Produk Domestik Bruto (PDB) hingga saat ini masih bergantung konsumsi masyarakat yang andil sekitar 57%. Menurutnya, apabila konsumsi domestik menurun 10% bisa berakibat merosotnya PDB sebesar 0,5%.

Pembelian barang konsumsi sehari-hari masih lemah, perusahaan swasta pun menekan aksi ekspansinya. Dia menuturkan pada masyarakat kelas menengah ke atas cenderung menahan belanja kendati memiliki suplai dana. Di sisi lain, masyarakat level bawah harus berhadapan dengan harga pangan yang mahal sehingga mengurangi belanja.

"Amnesti pajak sebenarnya pendorong untuk masyarakat percaya. Prinsipnya konsumen masih wait and see. Barang konsumsi sehari-hari masih lemah," katanya, dalam Acara Diskusi Lembaga CORE: Refleksi Ekonomi 2016, di Jakarta, Selasa (20/12/2016).

Data survei terakhir dari Bank Indonesia juga menunjukkan penjualan eceran pada Oktober 2016 mengindikasikan perlambatan secara tahunan terlihat dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Oktober 2016 yang tumbuh 7,6% (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan 10,7% (yoy) pada September 2016. Perlambatan penjualan ritel terutama terjadi pada kelompok makanan. 

Yongki menambahkan kuartal terakhir tahun ini belum ada pemulihan perekonomian. Pada kuartal I/2017, dia berpendapat masyarakat masih akan mengerem pengeluarannya karena beberapa faktor seperti cuaca, masalah kesehatan akibat cuaca, dan gangguan rantai pasok barang.

Dia berharap pemerintah terus meyakinkan masyarakat untuk mengikuti program amnesti pajak sebagai langkah menjaga kepercayaan terhadap kondisi perekonomian ke depannya.

"Sekarang tidak takut (bayar pajak), tapi diberi kepercayaan lagi dan lagi. Mereka yang belum ikut tax amnesty harus ikut supaya kembali percaya," ucapnya.

Survei konsumen BI pada November 2016 menunjukkan keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian Indonesia tetap berada dalam level optimis. Namun, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada November 2016 mengalami sedikit penurunan menjadi sebesar 115,9 dari bulan sebelumnya sebesar 116,8. 

Tag : pdb, konsumsi masyarakat
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top