KABAR PASAR 22 SEPTEMBER: Kompromi Isi Ulang, Waspada Pembalikan Arus Modal Asing

Berita mengenai ruang kompromi untuk pengenaan biaya top up uang elektronik menjadi topik utama media nasional hari ini, Jumat (22/9/2017) bersamaan dengan sejumlah berita utama lainnya.
Aprianto Cahyo Nugroho | 22 September 2017 07:50 WIB
the Federal Reserve di Washington D.C. - Ilustrasi/en.wikipedia.org

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai ruang kompromi untuk pengenaan biaya top up uang elektronik menjadi topik utama media nasional hari ini, Jumat (22/9/2017) bersamaan dengan sejumlah berita utama lainnya.

Berikut ringkasan berita-berita utama di media nasional hari ini:

Kompromi Isi Ulang. Kendati berkeras mengenakan biaya top up, Bank Indonesia  tampaknya memberikan ruang kompromi dengan menggratiskan biaya untuk transaksi sampai dengan Rp200.000. (Bisnis Indonesia)

Waspada Pembalikan Arus Modal Asing. Kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve) untuk menahan kembali suku bunganya dan memutuskan memulai pemangkasan neraca keuangannya pada Oktober, berpeluang menciptakan arus modal keluar di negara berkembang, termasuk Indonesia. (Bisnis Indonesia)

WP Diberi Kelonggaran. Ditjen Pajak memberi kelonggaran bagi wajib pajak (WP) supaya membetulkan surat pemberitahuan (SPT) sebelum pemeriksaan benarbenar digencarkan. Namun demikian, kesempatan itu hanya berlaku sebelum SP2 atau Surat Perintah Pemeriksaan diterbitkan. (Bisnis Indonesia)

Pelat Merah Didorong Terbitkan DIRE. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mendorong perusahaan pelat merah menerbitkan produk investasi dana investasi real estat (DIRE). Adapun, salah satu perusahaan yang didorong adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (Bisnis Indonesia)

Gagap di Kredit Produktif. Bank pembangunan daerah masih tergopoh-gopoh dalam menganalisis risiko kredit produktif. Hal itu terlihat dari peningkatan kredit bermasalah saat ‘dipaksa’ regulator untuk memperbesar portofolio segmen produktif. (Bisnis Indonesia)

Dividen Mengoptimalkan Investasi di LQ45. Sejak awal tahun hingga Rabu lalu atau year-to-date (ytd), indeks LQ45 mencatatkan pertumbuhan 11,17%. Angka ini sedikit di bawah performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tumbuh 11,51% (ytd).

Cara Pajak Mengejar Setoran Meresahkan. Kalangan pengusaha dan peserta pengampunan pajak (tax amnesty) tengah jeri. Sumber kecemasan mereka adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36/2017 tentang Pengenaan Pajak Penghasilan atas Penghasilan Tertentu Berupa Harta Bersih yang Diperlakukan atau Dianggap sebagai Penghasilan. (Kontan)

Kemkeu: Tak Ada Prefunding 2018. Pemerintah kemungkinan tidak akan menarik utang pada akhir tahun ini untuk memenuhi kebutuhan belanja di awal tahun 2018 atau prefunding. Pasalnya, posisi kas pemerintah di awal tahun depan diprediksi masih aman karena Saldo Anggaran Lebih (SAL) melebihi Rp 70 triliun. Jumlah itu lebih besar dibandingkan kondisi SAL tahun lalu yang sekitar Rp 50 triliun sehingga mendorong pemerintah menarik utang. (Kontan)

Tag : kabar pasar
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top