Lima Faktor Ini Tahan Pelemahan Rupiah

Bank Indonesia meyakini risiko kenaikan suku bunga AS yang diekspektasi lebih dari tiga kali tahun ini terhadap nilai tukar masih terkendali. Pasalnya, Indonesia memiliki lima faktor positif yang menopang pergerakan rupiah dari tekanan eksternal.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 20 Februari 2018  |  00:41 WIB
Lima Faktor Ini Tahan Pelemahan Rupiah
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA—Bank Indonesia meyakini risiko kenaikan suku bunga AS yang diekspektasi lebih dari tiga kali tahun ini terhadap nilai tukar masih terkendali. Pasalnya, Indonesia memiliki lima faktor positif yang menopang pergerakan rupiah dari tekanan eksternal.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdy mengungkapkan sedikit saja perubahan data dan beberapa kebijakan fiskal di AS cukup untuk membuat pasar keuangan bergerak. Begitupun, ketika wacana potensi kenaikkan suku bunga AS dikalkulasi dapat mencapai empat kali tahun ini. Pelemahan terjadi dihampir seluruh mata uang, termasuk mata uang Garuda.

"Baru rencana saja, sudah bergerak. Apalagi benar terjadi," kata Doddy, Senin (19/2/2018). Menurut Doddy, risiko ini jelas berpengaruh besar karena ekonomi Indonesia masih tergantung pada sumber daya asing.

Ketika suku bunga ada penyesuaian di AS, dia melihat investor asing akan merasa tidak nyaman atau ingin menyesuaikan portofolionya dengan mengeser investasi dari negara emerging kembali ke AS dan efeknya tentu berdampak pada rupiah.

Namun, dia menegaskan Indonesia masih memiliki lima faktor internal yang mampu menahan risiko pelemahan dari penyesuaian suku bunga AS. Pertama, pertumbuhan ekonomi diprediksi lebih baik dari tahun lalu.

"Memang agak lebar 5,1-5,5%, tetapi potensi ke batas atasnya cukup besar kalau melihat data-data pertumbuhan ekonomi dunia." Seperti diketahui, proyeksi BI untuk pertumbuhan ekonomi dunia akan dikoreksi menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,6%, dengan adanya respon perbaikan ekonomi China, AS dan India.

Kedua adalah inflasi. Menurutnya, sepanjang pemerintah konsisten dengan komitmen tidak menyesuaikan tarif listrik tahun 2018, inflasi akan tetap berada pada kisaran 3,5% plus minus 1%.

Sekalipun, harga minyak dunia terus naik dan pemerintah terpaksa melakukan penyesuaian harga. BI meyakini efeknya tidak akan membuat inflasi melampaui target. "Itu sudah kami hitung, dari inflasi masih managable," tegas Doddy.

Faktor ketiga adalah transaksi berjalan. BI menilai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tahun ini akan menggerek impor naik. Alhasil, transaksi berjalan akan naik defisitnya.

BI memperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2018 akan melebar hingga 2% - 2,5% dari 1,7% tahun lalu.

Namun, angka defisit tersebut dinilai masih di bawah batas aman 3%. "Jadi sepanjang kenaikan defisit transaksi berjalan tadi refleksi kenaikan ekonomi terutama dari sisi investasi itu bagus sebenarnya karena itu mendorong potensi ekonomi," kata Doddy.

Keempat, pergerakan cadangan devisa. Faktor ini memang tergantung arus masuk ke dalam negeri. Jika transaksi berjalan defisitnya naik dan arus masuk tidak mengimbangi, ada risiko cadangan devisa turun.

Oleh karena itu, dia menegaskan BI harus masuk untuk mengimbangi tekanan itu karena jika defisit transaksi berjalan tidak ditutup oleh aliran modal, nilai tukar dapat terpapar.

Namun, prediksi kami jika defisit transaksi berjalan masih sehat dan ditopang oleh investasi proyeksi kami sumber financingnya itu PMA akan terus naik. Faktor kelima yaitu perbaikan rating.

Dua rating telah diraih Indonesia dari Japan Credit Rating Agency dan Fitch. Selanjutnya, Indonesia menunggu potensi perbaikan dari Moody's. Dengan lima faktor ini, dia yakin nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa kembali menguat. "Pelemahan saat ini berlebihan karena ada faktor domestik yang membuat rupiah bisa menahan rupiah melemah terlalu dalam. Walaupun koreksi terjadi tetapi pelemahan itu seharusnya tidak terlalu dalam."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top