Terima Delegasi US Asean Business Council, Presiden Jokowi Paparkan Reformasi Ekonomi

Presiden Joko Widodo menerima kunjungan delegasi US Asean Business Council di Istana Negara.
Amanda Kusumawardhani | 13 Maret 2018 10:39 WIB
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan ketika meresmikan pabrik PT Kalbio Global Medika yang merupakan anak usaha dari PT Kalbe Farma, di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (27/2/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo menerima kunjungan delegasi US Asean Business Council di Istana Negara.

Dalam pertemuannya dengan US Asean Business Council tersebut, Presiden Jokowi menekankan bahwa Indonesia tengah melakukan reformasi ekonomi yang salah satu tujuannya untuk meningkatkan ranking Kemudahan Berusaha (Ease of Doing Business) pada tahun ini.

"Indonesia sedang melakukan reformasi ekonomi. Tahun ini [2018] akan menjadi tahun yang baik bagi Amerika Serikat, Asean, dan Indonesia," katanya, Selasa (13/3/2018).

Menurutnya, investasi Amerika Serikat cukup dominan, meski masih kalah dengan negara-negara Asia Timur yakni China, Jepang, dan Korea Selatan pada tahun lalu.

Sebaliknya, investasi dari negara Asean yakni Singapura menempati posisi pertama sebagai investor asing terbesar pada 2017.

Selain mengupayakan peningkatan investasi Amerika Serikat (AS) dan Asean ke Indonesia, Jokowi juga berkomitmen untuk menggenjot nilai perdagangan ke kedua kawasan tersebut.

Dalam hal ini, isu hambatan perdagangan juga tidak lepas dari pembahasan atas kunjungan US Asean Business Council di Istana Negara.

Berdasarkan catatan statistik AS, pada tahun 2017 neraca perdagangan non migas Indonesia dengan AS surplus US$12,8 miliar bagi Indonesia di mana ekspor nonmigas RI meningkat 5% dibandingkan 2016.

Belakangan ini, kebijakan America First diterapkan oleh AS tengah menjadi perbincangan hangat dan memicu perang dagang secara global.

Hambatan perdagangan itu mencakup berbagai bentuk seperti keluar dari perjanjian dagang kemitraan trans-pasifik (TPP), mereview kebijakan North American Free Trade Agreement (NAFTA) dan mengurangi defisit perdagangan dengan 10 mitra dagang yang menjadi sumber defist neraca dagang AS.

Selain itu, kebijakan masa Donald Trump lainnya ialah trade remedy (anti dumping, anti subsidy), termasuk yang terakhir kebijakan menaikan tarif impor baja 25% dan aluminum 10%.

Tag : jokowi
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top