Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2017 Naik 0,9%

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2017 tercatat mencapai 70.81, atau meningkat sebesar 0,63 poin atau 0,90% dibandingkan tahun sebelumnya.
Hadijah Alaydrus | 16 April 2018 16:25 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto menjawab pertanyaan wartawan seusai paparan di Jakarta, Kamis (1/3/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2017 tercatat mencapai 70.81, atau meningkat sebesar 0,63 poin atau 0,90% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tersebut dikategorikan tinggi jika mengacu pada standar yang dibuat oleh UNDP.

"Dikategorikan tinggi karena berkisar pada selang 70 hingga 79,99," kata Kecuk, Senin (16/4/2018).

Dia memaparkan IPM ini disusun dengan menggunakan tiga dimensi, yaitu dimensi kesehatan yang diukur dengan indikator Umur Harapan Hidup (UHH), dimensi pengetahuan atau pendidikan yang diukur dengan Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS), serta dimensi hidup layak yang didekati dengan pengeluaran per kapita yang disesuaikan dan paritas daya beli.

Dari dimensi tersebut, BPS melaporkan bayi yang lahir pada 2017 memiliki harapan dapat hidup hingga 71,06 tahun, lebih lama 0,16 tahun dibandingkan bayi yang lahir tahun 2016.

Sementara itu, Kecuk mengatakan anak--anak pada 2017 yang telah berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,85 tahun (Diploma 1), lebih lama sekitar 0,13 tahun dibandingkan anak berumur sama yang lahir padda 2016.

Adapun, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,10 tahun (kelas IX), jauh lebih lama 0,15 tahun dibandingkan tahun lalu.

Pada 2017, rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia dalam memenuhi kebutuhan hidup juga meningkat Rp244.000 menjadi Rp10,66 juta per tahun.

Secara umum, Kecuk mengungkapkan IPM Indonesia terus mengalami kemajuan selama periode 2010 hingga 2017.

"Selama periode tersebut, IPM Indonesia rata-rata tumbuh sebesar 0,98% per tahun dan meningkat dari level sedang menjadi tinggi mulai 2016," papar Kecuk.

Menurutnya, laju pertumbuhan IPM memang tidak dapat digenjot dengan mudah karena melibatkan kondisi sosial masyarakat yang sangat struktural.

Contohnya, pencapaian usia harapan hidup merupakan hasil implementasi kebijakan banyak pihak, termasuk seperti dampak dari pola makan dan keseharian gaya hidup yang sehat, kondisi lingkungan hidup tempat tinggal dan lain sebagainya.

Usaha dan program perbaikan kualitas manusia yang dilakukan juga tidak serta merta dapat dirasakan secara kasat mata atau dalam jangka waktu kurang dari satu atau dua tahun.

Misalnya, lanjut Kecuk, kebijakan wajib belajar 12 tahun baru bisa berdampak kepada harapan lama sekolah. Namun belum berdampak kepada rata-rata lama sekolah.

Tag : bps
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top