Perang Tarif AS-China Dimulai 6 Juli, Pasar Pelajari Data PMI China

Kebijakan saling berbalas tarif impor antara Amerika Serikat dan China akan memasuki babak baru pada pekan ini.
Renat Sofie Andriani | 02 Juli 2018 09:21 WIB
. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan saling berbalas tarif impor antara Amerika Serikat dan China akan memasuki babak baru pada pekan ini.

Pasalnya, mulai Jumat ini (6/7/2018), dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut akan mulai saling memberlakukan tarif lebih tinggi untuk ratusan jenis produk impor, sekaligus menandai eskalasi konflik yang besar.

Sementara itu, dampak kebijakan Presiden AS Donald Trump terhadap perdagangan dengan China telah terlihat.

Seperti diketahui, data Indeks Pembelian Manajer (Purchasing Managers’ Index/PMI) China untuk Juni yang dirilis pada Sabtu (30/6/2018) menunjukkan data permintaan ekspor yang berkontraksi.

Biro Statistik China (NBS) mencatat Indeks Pembelian Manajer (Purchasing Managers’ Index/PMI) China berkontraksi menuju 51,5 pada Juni, di bawah perkiraan analis di level 51,6, dan raihan 51,9 pada Mei.

Adapun data indeks permintaan ekspor China juga berkontraksi untuk pertama kalinya sejak Februari 2018, turun menjadi 49,8 dari bulan sebelumnya, menunjukkan melesunya permintaan dari negara-negara lain.

Ini menjadi tanda paling jelas bahwa perang perdagangan yang akan datang memiliki dampak negatif pada pertumbuhan.

Hal ini menjadi fokus perhatian di antara pembuat kebijakan pemerintah China yang kini menghadapi tugas rumit menyeimbangkan dukungan untuk ekonomi yang sudah melambat, dengan keinginannya untuk menahan kelebihan kredit.

Ketika sektor jasa yang semakin penting tetap kuat, ada sedikit kebutuhan untuk membuka keran stimulus terlalu luas untuk saat ini, asalkan China tetap di jalur untuk mencapai target pertumbuhan dengan ekspansi sebesar 6,5% untuk 2018.

“Perekonomian China akan melambat untuk sepanjang sisa tahun ini, tetapi kita tidak perlu khawatir tentang kemandekan apa pun,” kata Zhu Qibing, kepala analis ekonomi makro BOC International China Ltd di Beijing.

“Kuncinya adalah bagaimana perdagangan internasional dan perselisihan antara China dan AS akan berkembang,” tambahnya, seperti dikutip Bloomberg, Senin (2/7/2018).

Penurunan juga terlihat pada ekspor Korea Selatan untuk Juni, yang secara tak terduga turun 0,1% dari tahun sebelumnya. Sebagian alasannya adalah faktor seperti hari kerja yang lebih sedikit.

Tetapi perlu diingat bahwa Korsel adalah pemasok utama chip komputer dan komponen lainnya ke China. Data Korsel keluar lebih awal dari kebanyakan negara lain, sehingga ini dilihat sebagai penentu awal untuk kesehatan perdagangan global.

China Federation of Logistics & Purchasing, yang membantu melakukan survei PMI menjelaskan dalam sebuah pernyataan, betapa ancaman tarif yang lebih tinggi dapat berdampak pada permintaan.

“Pada bulan-bulan sebelumnya, perusahaan-perusahaan mempercepat ekspor karena mereka telah memperkirakan situasi yang rumit dari perdagangan internasional ini. Ketika gesekan perdagangan antara Amerika Serikat dan China meningkat, ekspor mulai surut,” jelasnya.

PBOC

Munculnya pasar yang bearish pada bursa saham terkemuka di negara itu serta kemerosotan tercepat dalam mata uang sejak devaluasi 2015 telah membuat jelas sikap investor yang berhati-hati.

Sekarang muncul pertanyaan tentang bagaimana People's Bank of China (PBOC) akan menindaklanjuti sinyal pekan lalu bahwa mereka akan lebih mendukung pertumbuhan, serta apakah pendekatan 'struktural' saat ini, dimana kebijakan yang ditujukan pada sektor-sektor tertentu, seperti bisnis kecil, akan cukup.

Hanya lebih dari sepekan sejak langkah terakhir PBOC yang mendukung, dengan pengurangan sebesar 0,5 poin persentase dalam jumlah cadangan yang harus disimpan oleh bank.

Meski langkah itu bergerak membuka sekitar 700 miliar yuan (US$106 miliar), sebagian besar dari dana tersebut ditargetkan untuk mendukung program pertukaran swap utang terhadap ekuitas yang bertujuan untuk membersihkan neraca keuangab.

Singkatnya, sementara para ekonom memperkirakan pemotongan lebih lanjut dalam persyaratan cadangan tahun ini, tidak jelas bahwa langkah itu akan secara langsung mendukung kredit bank dan pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.

PBOC akan memangkas persyaratan cadangan sebesar 50 basis poin setiap kuartal untuk sepanjang sisa 2018, menurut riset ekonom di Goldman Sachs Asia LLC yang dipimpin oleh Zhennan Li. Adapun perkiraan median ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan suku bunga acuan yang lebih luas tetap pada 4,35% hingga akhir tahun.

“Kami terus mengharapkan PBOC untuk menyesuaikan kebijakannya sesuai kebutuhan demi membendung perlambatan pertumbuhan domestik dan setiap materialisasi gesekan perdagangan,” tulis ekonom Goldman Sachs.

 

 

Tag : ekonomi china, perang dagang AS vs China
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top