Darmin Patok Defisit Transaksi Berjalan 2,7% PDB

Pemerintah mematok defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dapat mencapai 2,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir 2018, atau turun dari posisi 3% dari PDB pada kuartal II/2018.
Yodie Hardiyan | 04 September 2018 12:54 WIB
Menko Perekonomian Darmin Nasution (tengah) saat berdiskusi dengan Menko Polhukam Wiranto (kanan) dan Menteri ESDM Ignasius Jonan sebelum mengikuti rapat terbatas penanganan bencana alam NTB di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (10/8/2018). - Antara/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah mematok defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dapat mencapai 2,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir 2018, atau turun dari posisi 3% dari PDB pada kuartal II/2018.

Target pemerintah itu disampaikan oleh Menteri Bidang Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution seusai menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/9/2018) bersama sejumlah menteri ekonomi lainnya.

Seperti diketahui, defisit transaksi berjalan mencapai US$8 miliar pada kuartal II/2018 atau sekitar 3% dibandingkan dengan PDB Indonesia yang mencapai Rp3.684 triliun pada kuartal II/2018.

"Sekarang kan 3%. Kita mau dorong ke arah 2,5%. Mungkin 2,7%. Tapi paling tidak, kita ingin dia (defisit transaksi berjalan) turun," kata Darmin yang mengharapkan defisit transaksi berjalan itu lebih kecil pada 2019.

Darmin mengatakan penurunan defisit transaksi berjalan itu mungkin memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Kendati demikian, Darmin memperkirakan nilai tersebut tidak banyak.

Darmin mengatakan defisit transaksi berjalan merupakan salah satu kelemahan perekonomian Indonesia pada saat ini. Akan tetapi, menurutnya kondisi saat ini masih lebih baik dibandingkan dengan defisit transaksi berjalan Brazil, Turki dan Argentina. "Memang betul kita defisit. Tapi kita lebih kecil daripada mereka," tegas Darmin.

Sebelumnya, bank sentral meyakini dapat menjaga defisit transaksi berjalan di kisaran 2,5% dan menurun ke 2% tahun 2019.  Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menuturkan proyeksi tersebut sejalan dengan upaya penerapan B20, pembatasan impor dan promosi pariwisata serta penundaan proyek infrastruktur yang konten impornya tinggi.

"Tahun depan, kami perkirakan current acccount deficit (defisit transaksi berjalan) akan berada di kisaran 2%. Tidak hanya dari upaya menekan impor, tapi karena ada tambahan dari upaya mengenjot ekspor," ujar Perry, Jumat (31/8/2018).  Selengkapnya penjelasan Gubernur BI dapat dibaca di sini.

Tag : darmin nasution
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top