Bahu-membahu Selamatkan Rupiah, Fundamental Ekonomi masih Oke

Tekanan demi tekanan terhadap rupiah baik dari dalam negeri maupun luar negeri membuat mata uang garuda terus melemah. Saatnya mencari solusi terbaik untuk menjaga nilai tukar sehingga tidak mengganggu stabilitas.
Tim Bisnis Indonesia | 05 September 2018 12:11 WIB
Perbandingan kurs rupiah tahun 1998, 2008, dan 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan demi tekanan terhadap rupiah baik dari dalam negeri maupun luar negeri membuat mata uang garuda terus melemah. Saatnya mencari solusi terbaik untuk menjaga nilai tukar sehingga tidak mengganggu stabilitas.

Kinerja rupiah menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu (5/9/2018). Berikut laporannya.

Pada penutupan perdagangan di pasar spot, Selasa (4/9/2018), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,81% ke level Rp14.935 per dolar AS atau nyaris mendekati level psikologis Rp15.000 per dolar AS.

Pemerintah dan otoritas telah mati-matian mengawal rupiah lewat sederet bauran kebijakan yang telah dan akan dikeluarkan, mulai dari kebijakan moneter, fiskal, dan riil.Namun, hal itu belum berdampak maksimal menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.

Yang terbaru, menyusul beberapa kebijakan lain yang telah dikeluarkan, pemerintah akan merealisasikan rencana pengaturan impor barang konsumsi, yang dalam 2 bulan terakhir naik hingga lebih dari 50%.

Peraturan menteri keuangan (PMK) terkait dengan hal tersebut akan dikeluarkan hari ini atau besok. PMK itu akan mengatur tarif pajak penghasilan (PPh) impor dan juga jenis barang yang dikenakan PPh impor.

Upaya meredam impor juga ditempuh sektor energi. Menteri ESDM Ignasius Jonan siap mengawal pengendalian impor di sektor minyak dan gas bumi, mineral, batu bara, dan kelistrikan semaksimal mungkin.

Ini merupakan arahan Presiden Joko Widodo dalam dua kali rapat berturut-turut di Istana Presiden pada Senin (3/9) dan Selasa (4/9) terkait dengan kondisi rupiah terkini.

Situasi nilai tukar saat ini juga membutuhkan kesediaan masyarakat untuk menahan diri mengonsumsi barang-barang impor.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan impor komoditas yang tak diperlukan, a.l. barang mewah, memang harus dikurangi untuk mengurangi defisit neraca perdagangan.

Diakui JK, pemerintah memiliki PR besar untuk meyakinkan masyarakat agar berhemat dan tak berbelanja barang mewah, apalagi menggunakan dolar AS. “ Akan tetapi, jangan dalam situasi sulit seperti ini.”

Dari sisi otoritas moneter, bank sentral mengaku telah mengintensifkan langkah intervensi ganda dalam meredam gejolak nilai tukar rupiah.

BI, misalnya, telah menyerap SBN di pasar sekunder hingga Rp7,2 triliun, dengan rincian Rp4,2 triliun pada Jumat (31/8) dan Rp3 triliun pada Senin (3/9).

Tidak hanya itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan pihaknya tetap melakukan lelang FX Swap dan membuka fasilitas swap hedging bagi pengusaha. Dari data BI, lelang FX Swap memang intensif dilakukan sepanjang minggu lalu dengan injeksi likuditas US$1,225 miliar.

Sejauh ini, pemerintah juga terus mendorong eksportir membawa pulang devisa hasil ekspor (DHE). Namun, upaya ini juga belum berdampak maksimal karena minimnya nilai DHE yang dikonversi ke rupiah.

Data menunjukkan DHE yang dihasilkan sepanjang Januari-Juni tahun ini mencapai US$69,88 miliar. DHE yang masuk tersebut ditempatkan di perbankan domestik sejumlah 92,6% atau senilai US$64,74 miliar. Hanya saja, yang dikonversi ke rupiah hanya 13,3% atau sebesar US$ 8,62 miliar.

Kementerian ESDM siap mengambil langkah tegas memberikan sanksi bagi eksportir di sektor sumber daya alam yang memarkirkan dana hasil ekspor di luar negeri.

Bambang Gatot, Dirjen Minerba Kementerian ESDM, mengatakan untuk memastikan bahwa devisa dibawa ke dalam negeri, dengan meningkatkan pengawasan langsung. “Kalau sanksi lagi kita pikirkan, seperti pengurangan produksi. Kami belum lihat dikurangi berapa.”

Kondisi rupiah saat ini juga menjadi perhatian DPR. Rapat paripurna yang berlangsung di DPR kemarin, diwarnai interupsi mengenai pelemahan rupiah. Pemerintah dituntut mengambil sikap cepat dan tidak terus menyalahkan berbagai persoalan di global sebagai biang kerok.

MASIH KUAT

Di sisi lain, pengusaha meyakini kondisi fundamental perekonomian Indonesia saat ini masih jauh lebih kuat dibandingkan dengan periode krisis yang terjadi pada 1998 dan 2008.

Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Shinta W. Kamdani memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih akan terus berlanjut.

“Akan tetapi, bedanya kalangan pengusaha Indonesia saat ini sudah lebih siap.”

Kesiapan yang lebih baik dari para pengusaha ini, menurutnya, menjadi salah satu kunci bagi Indonesia menahan gempuran sentimen negatif dari sisi eksternal.

(Puput Ady Sukarno/Novita Sari Simamora/Mutiara Nabila/Feni Freycinetia/Edi Suwiknyo/Rinaldi Mohammad Azka/Emanuel Berkah Caesario/Hadijah Alaydrus/Dwi Nicken Tari/David Eka Issetiabudi/Denis Riantiza M./Yustinus Andri)

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top