Rupiah Masih dalam Tekanan, Kebijakan Pemerintah Jadi Krusial

Rupiah pekan depan diprediksi masih menghadapi tekanan terutama dari eksternal. Faktor komitmen pemerintah menjadi sentimen positif jangka pendek.
Rinaldi Mohammad Azka | 09 September 2018 00:11 WIB
Ilustrasi mata uang rupiah. - Reuters/Thomas White

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah pekan depan diprediksi masih menghadapi tekanan terutama dari eksternal. Faktor komitmen pemerintah menjadi sentimen positif jangka pendek.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengungkap rupiah masih dalam tekanan. "Tekanan masih ada, masih ada The Fed dan perang dagang," ungkapnya kepada Bisnis pada Sabtu (8/9/2018).

Pada akhir bulan ini, dapat dipastikan The Fed kembali menaikkan suku bunganya dan hal tersebut sudah pasti berdampak terhadap nilai tukar emerging market.

Sementara, eskalasi perang dagang kembali memasuki babak baru di mana Presiden AS Donald Trump sudah menyiapkan tarif baru senilai US$200 miliar dan mengancam menambahkan tarif US$267 miliar.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi Taulat mengatakan komitmen pemerintah dalam memperbaiki defisit transaksi berjalan diapresiasi dengan baik oleh pasar. Selain itu, data terbaru menjadi penawar ketegangan investor.

"Data indeks keyakinan konsumen turun moderat dan data cadangan devisa masih berada di atas US$115 miliar seakan menjadi penawar ketegangan investor pada nilai tukar rupiah. Prospek pemerintah terhadap intervensi rupiah masih mempunyai nafas," ujarnya.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, kurs
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top