NGOBROL EKONOMI: Nuklir Bukanlah Thanos

Bagi Indonesia, bukan tidak mungkin mengikuti roadmap yang sama dalam pemanfaatan energi nuklir. Asalkan, kita mau mengedepankan kepentingan nasional sebagai kebutuhan bersama.
Arif Budisusilo | 14 September 2018 08:17 WIB

Saya beruntung, turut dalam kunjungan kerja PLN bersama tujuh Rektor perguruan tinggi negeri dan sejumlah akademisi ke Rusia pekan lalu, dalam rangka melihat dari dekat aplikasi teknologi nuklir untuk pembangkit listrik.

Seeing is believing! Itu kata yang saya ucapkan saat mendadak ‘mewakili’ media memberikan ‘sambutan perpisahan’ menjelang para Rektor menuju bandara internasional Domodedovo untuk pulang kembali ke Indonesia. 

Sebagai praktisi komunikasi, saya suka mengutip idiom “seeing is believing” itu. Idiom tersebut pertama kali dipakai tahun 1639, lebih dari empat abad silam. Ia populer melalui film Inggris dengan judul yang sama pada 1934, lalu ditulis dalam judul novel misteri oleh Carter Dickson pada tahun 1941, kemudian menjadi judul lagu Seein’ Is Believing pada 1997.

Ya. Dengan melihat langsung, dari dekat, kita akan percaya. Hanya bukti fisik atau bukti konkritlah yang bisa memuaskan kita. Bukan hanya katanya, atau konon kabarnya.

Itu pula yang saya rasakan, tatkala mengikuti rombongan para Rektor ke Rusia atas undangan PLN, melihat langsung pembangkit listrik tenaga nuklir milik Rosatom , pada pekan pertama September ini.

Kebetulan, bulan September cuaca di Rusia begitu bersahabat. Matahari bersinar penuh, udara segar, dan langit biru cerah. Banyak pula wajah-wajah sumringah. Mirip dengan lagu September Ceria, yang dipopulerkan artis “Si Burung Camar”, Vina Panduwinata.

***

Sejak introduksi demokratisasi berbasis keterbukaan dan transparansi (glasnost) di Uni Sovyet, serta serangkaian kebijakan politik dan reformasi ekonomi (perestroika) di bawah Presiden Mikhael Gorbachev pada era 1980-an, negara itu berubah total.

Uni Sovyet pecah menjadi beberapa negara, dan Rusia kini tampak seperti negara kapitalis. Warga kota, saat merayakan peringatan 871 tahun kota itu pada 8 September silam, mengatakan Moskwa bahkan makin berubah dan kian terbuka dalam 10 tahun terakhir ini.

Namun, yang tak berubah adalah kebanggaan warganya sebagai bangsa yang tak tergerus oleh kapitalisme. Bahkan, Dubes RI di Moskwa Wahid Supriyadi memuji tingginya nasionalisme bangsa Rusia.

Contohnya, saat mata uang Rubel melemah pada titik terendah dalam 10 tahun terakhir ini, tak membuat warga Rusia menghujat pemerintahnya. Risiko dari keterbukaan ekonomi diterima dengan wajar. 

Label komunis juga nggak lagi menjadi momok. Justru warga Rusia terkenal rajin ke gereja. Gereja terlihat di mana-mana. Selain itu, juga terdapat banyak masjid. Saya sempat memasuki Moscow Cathedral Mosque, masjid yang relatif masih baru di kompleks Olympic Stadium di tengah kota.

Bangunannya tampak megah dengan arsitektur yang indah, baik dari luar maupun interiornya. Masjid itu bahkan diresmikan oleh PM Vladimir Putin sendiri.

Lebih dari itu, dalam soal teknologi, Rusia adalah kampiunnya. Khusus teknologi nuklir, dari kampus dan kompleks pembangkit listrik bertenaga nuklir (NPP- Nuclear Power Plant) yang kami kunjungi, jelas Rusia berada di depan.

Saya dapatkan kesan itu setidaknya dari kunjungan ke MPEI, Gubkin State University yang punya spesialisasi soal ketenagalistrikan, serta MEPhI, Universitas Nuklir Rusia.

Kesimpulannya, fokus pada riset yang kuat dan kompetensi yang mumpuni pada pendalaman dan penguasaan teknologi telah mengantarkan bangsa itu menjadi salah satu pemain utama teknologi nuklir di dunia. Bahkan, MEPhI telah meraih enam Hadiah Nobel berkat ketekunan, fokus dan passion dalam riset dan pengembangan teknologi.

Yang lebih nyata adalah saat memasuki salah satu kompleks pembangkit milik Rosatom di Voronezh, sekira 1 jam penerbangan dari Moskwa, yakni NPP
Novovoronezh Unit 6, yang baru beroperasi tahun ini.

NPP Unit 6 dan disusul dengan Unit 7 yang beroperasi tahun depan, menggunakan teknologi nuklir terbaru dengan tipe reaktor VVER 1200. PLTN ini menggunakan teknologi generasi 3+, dengan masa hidup selama 60 tahun.

Rosatom kini tercatat sebagai perusahaan pertama dunia yang mengaplikasikan pembangkit listrik tenaga nuklir generasi 3+. Kapasitas produksi daya listrik NPP Unit 6 sebesar 1195,4 MW dan daya panas 3200 MW yang biasanya digunakan untuk pemanas gedung-gedung dan perumahan di Rusia saat musim dingin. 

Jangan membayangkan lokasi NPP itu terpencil di tengah hutan. Lokasinya justru tak jauh dari perkotaan, dan hanya 1 jam berkendara dengan bus dari Chertovitskoye International Airport, bandara komersial kota Voronezh.

Sistem keamanan dan pengamanan dari teknologi VVER 1200 juga super aman, terdiri atas containment internal dan eksternal. Sistem barrier yang digunakan terdiri dari fuel pellet, fuel pin cladding, primary circuit boundary, protective containment dan biological shield.

Sebelum mengelola Unit 6, NPP Novovoronezh sudah beroperasi sejak 1964, dengan Unit 1 hingga unit 5, yang saat ini sudah shut down. Dengan berbagai sistem perlindungan tersebut, NPP Novovoronezh memiliki angka kecelakaan nol.

Di sistem pelatihan, Rosatom menjadi salah satu perusahaan dengan praktik terbaik di dunia. Mereka memiliki pusat pelatihan khusus untuk menggodok para insinyur dalam mengoperasikan sistem secara best practices

Yang jelas, pemanfaatan nuklir untuk listrik hanya salah satunya. Teknologi nuklir juga diaplikasikan di banyak hal lainnya, termasuk untuk kepentingan biomedis seperti
pengobatan kanker maupun diagnostik.

Jelasnya, melihat nuklir tergantung mindset kita. Nuklir bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia bisa dimanfaatkan untuk “saluran berkat”, meminjam istilah sahabat Kristiani. Nuklir bisa memberi banyak manfaat. Tergantung bagaimana dan untuk tujuan apa memanfaatkannya.

***

Entah kebetulan, sekembali dari Rusia, saya memantau dari jauh saat Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan dan Vietnam. Saya agak terusik dengan pidato Presiden Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo, saat menyampaikan pandangan dalam pertemuan Asia World Economic Forum. 

Dalam pidatonya, Pak Jokowi menganalogikan perkembangan dan dinamika perekonomian saat ini, yang disebutnya sebagai perang tanpa batas. Analogi yang dipakai adalah film Infinity War.

“Kita belum pernah menghadapi perang dagang dengan eskalasi seperti saat ini sejak Great Depression di tahun 1930-an. Namun, yakinlah saya dan rekan Avengers saya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagian populasi dunia,” ujar Jokowi dengan menyebut pelakon utama dalam film tersebut.

Thanos disebut ingin menghabisi separuh populasi dunia, sehingga sisa populasi yang bertahan dapat menikmati sumber daya per kapita dua kali lipat. Namun, ada kesalahan mendasar dari asumsi ini. Thanos yakin sumber daya di planet bumi terbatas.

Faktanya, sumber daya justru tidak terbatas. Alasannya, pertama, perkembangan teknologi telah menghasilkan peningkatan efisiensi, meningkatkan kemampuan memperbanyak sumber daya lebih dari sebelumnya.

Jokowi menyebutkan ekonomi dunia saat ini lebih "ringan"; dalam hal berat fisik dan volume fisik. Hanya dalam 12 tahun terakhir, total berat dan volume televisi, kamera, pemutar musik, buku, surat kabar, dan majalah telah tergantikan oleh ringannya ponsel pintar dan tablet. Itu sekadar contoh.

Kedua, perekonomian tidak lagi didorong oleh sumber daya alam yang terbatas, melainkan oleh sumber daya manusia yang tidak terbatas.

Di Indonesia, sebutnya, generasi muda menjadi motor transformasi e-commerce dan ekonomi digital. Di Indonesia, saat ini terdapat empat unicorn atau startup bervaluasi di atas US$1 miliar, selain sumber daya manusia yang mampu mendorong revolusi industri 4.0.  

Pak Jokowi percaya revolusi industri 4.0 akan menciptakan banyak lapangan kerja, bukan menghilangkannya. Selain itu, revolusi industri 4.0 juga dipercayai menurunkan kesenjangan, karena salah satu aspek pentingnya adalah penurunan biaya distribusi barang dan jasa secara dramatis, dan mudah dijangkau bagi kalangan berpendapatan rendah.

Nah, siapa sebenarnya yang dimaksud Thanos dalam tamsil Pak Jokowi? 

“Thanos ada di dalam diri kita semua. Thanos adalah paham yang salah, bahwa untuk berhasil, orang lain harus menyerah. Ia adalah persepsi yang salah bahwa keberhasilan sekelompok orang adalah kegagalan bagi yang lainnya.” Begitu kata Pak Jokowi.

Maka, jangan kecelik. Yang hendak disampaikan adalah tentang perlunya perubahan mindset, sikap dan perilaku setiap individu; bahwa dengan kreativitas, energi, kolaborasi, dan kerja sama, umat manusia akan menikmati sumber daya yang melimpah dan tidak terbatas bukannya perang tak berkesudahan. Begitu kata Pak Jokowi.

***

Meminjam analogi Infinity War itu, bolehlah pula kalau saya analogikan bahwa nuklir bukanlah Thanos. Sebab, ia terbukti telah menjadi sumberdaya alternatif, yang bisa memberi manfaat, bukan sekadar meluluhlantakkan, atau membumihanguskan.

Meski mengubah mindset tidak mudah, persepsi yang bersifat parsial, bahwa nuklir adalah senjata mematikan, dan membahayakan umat manusia, memang perlu diluruskan.

Persepsi tersebut mungkin terlahir dari warisan sejarah akibat perang dunia yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, serta kecelakaan nuklir di Chernobyl di masa lalu.

Namun, patut dicatat pula bahwa pengembangan teknologi nuklir kini sudah jauh lebih maju dan aman. Di Indonesia sendiri, penggunaan nuklir untuk diagnostik dan biomedis juga telah lumrah di banyak rumah sakit.

Belajar dari Rusia, para ahli, akademisi, politisi dan birokrat pembuat policy yang berhasil mengembangkan teknologi ini sekaligus mengaplikasikannya, barangkali adalah para Avengers yang mampu menyelamatkan kepentingan kemanusiaan warga mereka.

Bagi Indonesia, bukan tidak mungkin kita mengikuti roadmap yang sama dalam pemanfaatan energi nuklir. Asalkan, kita mau mengedepankan kepentingan nasional sebagai kebutuhan bersama. 

Dari perbincangan saya dengan para Rektor yang ikut dalam kunjungan kerja PLN itu, kuncinya soal sosialisasi yang mengedepankan benefit serta roadmap yang jelas dalam rangka mencapai ketahanan energi jangka panjang.

Maka, dibutuhkan banyak lagi para Avengers di Indonesia, guna memanfaatkan semua sumberdaya yang mungkin, untuk kepentingan kemanusiaan. Mereka adalah orang-orang yang optimistis, kreatif, inovatif, tidak melihat semua hal melulu dari perspektif negatif, melainkan mengedepankan sisi benefit.

Hanya dengan mindset dan values kehidupan seperti itulah, bangsa ini akan menjadi jauh lebih maju dan bermartabat.

Nah, bagaimana menurut Anda? (*)

  • Sumber: Beranda Bisnis Indonesia edisi Jumat, 13 September 2018, hal 1, dengan judul asli: Nuklir Bukanlah Thanos

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top