KABAR PASAR 14 SEPTEMBER: Emisi Obligasi Kian Mahal, Target Ekonomi Bisa Meleset

Sejumlah berita menjadi topik utama media massa nasional hari ini, Jumat (14/9/2018), di antaranya mengenai makin mahalnya emisi obligasi serta target pertumbuhan ekonomi tahun depan yang berpotensi meleset.
Aprianto Cahyo Nugroho | 14 September 2018 08:39 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah berita menjadi topik utama media massa nasional hari ini, Jumat (14/9/2018), di antaranya mengenai makin mahalnya emisi obligasi serta target pertumbuhan ekonomi tahun depan yang berpotensi meleset.

Berikut ringkasan berita utama di media massa hari ini:

Emisi Obligasi Kian Mahal. Korporasi harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar tingkat kupon emisi surat utang baru yang semakin tinggi pada kuartal III/2018 sejalan dengan tekanan risiko ekonomi dan kenaikan suku bunga. (Bisnis Indonesia)

Target Ekonomi Bisa Meleset ke 5,15%. Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada tahun depan berpotensi meleset ke level 5,15% bila kondisi depresiasi nilai tukar rupiah terus berlanjut. (Bisnis Indonesia)

Ditjen Pajak Datangi Tempat Usaha WP. Rasio pajak yang masih rendah, serta target penerimaan pajak yang terus naik membuat petugas pajak mulai melakukan berbagai langkah untuk memperbaiki performa pajak. (Bisnis Indonesia)

Masih Ada Importir yang Belum Patuh. Pemerintah mengimbau kepada wajib pajak (WP) importir untuk segera menyesuaikan tarif PPh Pasal 22 impor dengan mekanisme baru seiring dengan mulai berlakunya tarif baru tersebut sejak Kamis (13/9). Pasalnya, sebagian importir terdeteksi belum melakukan penyesuaian tarif baru tersebut. (Bisnis Indonesia)

Suku Bunga Acuan BI Masih Akan Naik. Kebijakan moneter ketat akan terus berlangsung setidaknya hingga tahun depan. Itulah sebabnya, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) diperkirakan akan terus meningkat sampai tahun 2019. Apalagi, BI mengaku akan tetap mempertahankan stance kebijakan yang cenderung ketat atau hawkish pada tahun 2019, meskipun tekanan akan berkurang. (Kontan)

Pelemahan Rupiah Bisa Menekan Defisit Anggaran. Nilai tukar rupiah terus menjauh dari target dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Meski tak ada APBN Perubahan 2018, pemerintah optimistis pelemahan rupiah tidak akan merugikan anggaran. Bahkan penurunan nilai tukar rupiah berpotensi mengurangi defisit anggaran pemerintah. (Kontan)

Beban Biaya Obligasi Korporasi Meningkat. Dampak kenaikan suku bunga dan yield surat utang negara mulai menjalar ke pasar obligasi korporasi. Sejumlah korporasi harus menawarkan kupon tinggi dalam penerbitan obligasinya. (Kontan)

Ekonomi Tahun 2019 Bakal Tumbuh Lebih Lambat dan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sepakat untuk tidak mengubah asumsi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2019. Dengan kesepakatan itu, maka target pertumbuhan ekonomi tahun depan tetap di angka 5,3%. Namun begitu, pemerintah melihat adanya risiko yang dapat menghambat ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi di tahun depan. (Kontan)

Tag : Obligasi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top